Pengembara yang masih tertatih berjalan di bawah bayang fatamorgana

Mantari Bungsu ©

About

Blog ini merupakan catatan pribadi dan kutipan serta tulisan dari berbagai sumber yang penulis rasa layak untuk di publish dan semoga dapat menjadi salah satu bahan referensi dan bacaan yang sifatnya untuk konsumsi personal dan atau lembaga.
Berbagai tulisan terkait pendidikan, agama dan budaya menjadi fokus kami dalam menyajikan tulisan dihadapan netizer.
Berbagai kritikan dan saran serta pandangan dan apresiasi kami harapkan dari netizer yang sempat singgah di blog ini.
Terimakasih.

Resume

Employment

Abdi Negara

Education

IKIP Padang

Portfolio

Agama


Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang(1) Segala puji  bagi Allah, Tuhan semesta alam(2) Maha Pemurah lagi Maha Penyayang(3) Yang menguasai  hari pembalasan(4) Hanya Engkaulah yang kami sembah,  dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan(5) Tunjukilah  kami jalan yang lurus(6) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan  jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat(7)

Al Fatihah artinya pembuka, surat ini dinamakan fatihatul kitab (pembuka kitab) karena kitab Alquran dibuka atau dimulai dengannya. Al Fatihah adalah surat pertama yang ditulis dan surat pertama yang dibaca oleh orang, namun bukan surat yang pertama diturunkan. Ada yang mengatakan bahwa Al Fatihah termasuk surat-surat Makkiyyah (ayat-ayat yang diturunkan sebelum hijrah), ada juga yang mengatakan bahwa ia termasuk surat Madaniyyah (yang diturunkan setelah hijrah). Surat ini dinamakan juga Ummul kitab, As Sab’ul Matsaaniy, surat Al Hamd, surat Ash Shalah dan Al Waaqiyah.

Telah disebutkan dalam beberapa hadits tentang keutamaan surat ini di antaranya yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Ahmad dari hadits Abu Sa’id bin Al Mu’alla bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya, “Maukah kamu aku ajarkan surat yang paling agung dalam Alquran?” Beliau pun memegang tangannya, ketika hendak keluar dari masjid, Abu Sa’id mengatakan, “Wahai Rasulullah, tadi engkau katakan, “Maukah kamu aku ajarkan surat yang paling agung dalam Alquran?” Maka Beliau menjawab, “Ya”, itulah Al Hamdulillahi Rabbil ‘aalamiin ia adalah As Sab’ul Matsaaniy dan Alquran yang mulia yang diberikan kepadaku.”

Juga dalam riwayat Muslim dari Ibnu Abas disebutkan, “Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Jibril, tiba-tiba terdengar suara di atasnya, Jibril pun memandang ke arah langit dan berkata, “Pintu langit ini dibuka yang sebelumnya sama sekali tidak dibuka,” ternyata ada malaikat yang turun lalu mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Aku berikan kabar gembira kepadamu dengan dua cahaya yang diberikan untukmu, yang tidak diberikan kepada nabi sebelummu yaitu Faatihatul kitab (surat Al Fatihah) dan akhir-akhir surat Al Baqarah, tidaklah kamu baca satu huruf pun daripadanya kecuali akan diberikan.“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”

Para ulama berselisih tentang basmalah ini, apakah ia ayat tersendiri dalam awal setiap surat atau termasuk ayat pada setiap surat ataukah ia termasuk ayat surat Al Fatihah saja. Ada yang mengatakan bahwa basmalah bukanlah termasuk ayat pada setiap surat, basmalah ditulis hanyalah untuk memisahkan surat-surat, namun para ulama sepakat bahwa basmalah salah satu ayat dari surat An Naml (yaitu ayat ke 30).

“Allah” adalah nama yang khusus untuk Tuhan kita, tidak bisa untuk selain-Nya, maknanya adalah “Al Ma’luuh” (Yang disembah dengan rasa cinta dan dan sikap pengagungan kita).
“Ar Rahman (Maha Pemurah) dan Ar Rahiim (Maha Penyayang)” berasal dari kata Ar Rahmah (kasih sayang), Ar Rahman lebih dalam dari kata Ar Rahiim. Al ‘Azramiy mengatakan bahwa Ar Rahman itu kepada seluruh makhluk, sedangkan Ar Rahiim kepada orang-orang mukmin. Nama Ar Rahman ini hanya khusus untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Syaikh Ibnul ‘Utsaimin dalam Syarh Tsalatsatil Ushul hal. 18 menjelaskan, bahwa Ar Rahman adalah Yang memiliki rahmat (kasih sayang) yang luas, sedangkan Ar Rahiim Yang menyampaikan rahmat-Nya (kasih sayangNya) kepada hamba-Nya yang dikehendaki. Sifat rahmat-Nya berdasarkan nama-Nya Ar Rahman, sedangkan memberikan rahmat-Nya kepada hamba-Nya yang dikehendaki berdasarkan nama-Nya Ar Rahiim.

“Segala puji  bagi Allah, Tuhan semesta alam.”

“Al Hamdu (segala puji)” maksudnya menyifati Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan kesempurnaan disertai rasa cinta dan pengagungan. Kata “Al” pada Al Hamdu adalah untuk istighraaq (menyeluruh) yakni segala pujian adalah untuk Allah. Dari sini diketahui bahwa bahwa Allah-lah yang berhak mendapat pujian yang sempurna dari segala segi. Sedangkan “Rabbil ‘aalmiin (Tuhan semesta alam)” maksudnya Allah-lah Yang Menciptakan, Yang Menguasai dan Yang Mengatur alam semesta. Alam semesta adalah segala sesuatu selain Allah, disebut ‘aalamin karena pada alam semesta itu ada ‘alam (tanda) terhadap Penciptanya, tanda kekuasaan Penciptanya, kebijaksanaan-Nya, kasih sayang-Nya dan Kemuliaan-Nya.

“Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” 

Sudah dijelaskan maknanya pada Ar Rahman dan Ar Rahim. Dan dilanjutkannya ayat “Rabbil ‘aalmiin” dengan “Ar Rahmanir Rahiim” menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam mengatur alam semesta didasari rasa kasih sayang-Nya bukan dengan menghukum dan menyiksa.

“Yang menguasai  hari pembalasan.”

“Maalik (Yang mengusai)” bisa juga dibaca Malik (tidak panjang mimnya). Dikhususkannya mengusai pada hari pembalasan tidaklah menafikan pada selain hari pembalasan, karena sudah disebutkan bahwa Allah adalah Rabbul ‘aalamin yakni mencipta, mengatur dan menguasai alam semesta. Dihubungkannya kata “Yang Menguasai” dengan hari pembalasan adalah karena ketika itu seseorang tidak bisa berbuat apa-apa seperti halnya mereka ketika di dunia, bahkan seseorang tidak bisa bicara kecuali dengan izin-Nya.

“Hanya Engkaulah yang kami sembah/‘ibadahi,  dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.”

“Na’budu (kami sembah/ibadahi)” yakni hanya kepada Engkaulah ya Allah kami menghinakan diri, oleh karena itu kamu lihat orang mukmin mereka taruh anggota badan mereka yang paling mulia (muka) ke tempat pijakan kaki meskipun mukanya terkena debu-debu, kalau seandainya ada orang yang berkata kepada seorang mukmin “Saya berikan untukmu dunia beserta isinya dengan syarat kamu sujud kepadaku.” Niscaya orang mukmin menolaknya mentah-mentah, karena ketundukan ini hanya untuk Allah saja.

Menyembah/beribadah itu mencakup mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah, karenanya tidaklah bisa dikatakan ‘abid (penyembah) hakiki yang meninggalkan perintah dan menjauhi larangan yang disembahnya. Dan untuk mencapai ‘abid hakiki ini hanya bisa terwujud dengan pertolongan Allah, oleh karena itu kita mengatakan “dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan”. 

Dikedepankannya kata-kata “Iyyaaka” (hanya kepadaMu) adalah untuk menunjukkan bahwa ibadah kita hanya ditujukan kepada Allah saja tidak boleh kepada selain-Nya, doa kita hanya ditujukan kepada-Nya saja, tawakkal kita dan ibadah-ibadah lainnya hanya ditujukan kepada-Nya saja. Juga kita diperintahkan untuk meminta pertolongan hanya kepada-Nya. Lalu bolehkah kita meminta pertolongan kepada makhluk? Jawabnya boleh dalam hal yang mereka mampu, karena isti’anah (meminta pertolongan) terbagi dua: Pertama, Isti’anah tafwidh, yakni meminta pertolongan dengan sikap menyandarkan/menyerahkan sepenuhnya kepada Allah dan merasakan ketidakmampuan diri kita, maka ini hanya kepada Allah saja. Kedua, Isti’anah yang musyaarakah yakni meminta keikutsertaan orang lain untuk turut membantu, maka ini boleh dengan syarat dalam hal yang mereka mampu membantunya.

“Tunjukilah  kami jalan yang lurus.” 

Ayat ini tidak memakai kata “Ilaa (kepada)” yakni tidak “Tunjukilah kami kepada jalan..dst” tetapi langsung “Tunjukilah kami jalan yang lurus”, sehingga dalam ayat ini seseorang meminta kepada Allah dua hidayah: Pertama, Hidayah irsyad yakni meminta kepada Allah diberitahukan manakah jalan yang lurus itu. Kedua, hidayah taufiq yakni meminta kepada Allah agar dibawa (dibantu menempuh) kepada jalan yang lurus. Karena betapa banyak orang yang mengetahui kebenaran, tetapi tidak mau mengikutinya. Jalan yang lurus adalah jalan yang benar yaitu Islam.

“Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat.” 

Jalan yang lurus di ayat sebelumnya masih mujmal (umum), maka dipertegas dengan ayat ini. Di ayat ini disebutkan 3 golongan. Pertama, golongan yang diberi nikmat, dimana ciri mereka adalah berilmu dan beramal, seperti Nabi dan para sahabatnya serta para pengikutnya. Kedua, golongan yang dimurkai, dimana ciri mereka adalah berilmu tetapi tidak beramal, seperti orang-orang Yahudi. Ketiga, golongan yang sesat, dimana ciri mereka adalah beramal tetapi tidak berilmu, seperti orang-orang Nasrani.

Wallahu a’lam bissawab
Read more Posted Under: , ,
▪ Robighfirlii
▪ Warhamnii
▪ Wajburnii
▪ Warfa’nii
▪ Warzuqnii
▪ Wahdini
▪ Wa’aafinii
▪ Wa’fuannii

Ketika  orang ditanya : “Do’a apakah yang  paling  sering  dibaca oleh se-orang muslim ?”
Banyak  yang  menjawabnya dengan salah. Begitu seringnya do’a itu dibaca,  hingga ketika sedang membaca do’a,  banyak yang tak merasa kalau sedang berdo’a. Padahal  do’a itu sangatlah dahsyat, mencakup  kebutuhan  kita di dunia dan akhirat. Do'a ini dibaca minimal 17 kali setiap hari, ialah do’a diantara dua sujud, marilah kita renungi maknanya :
Robbighfirlii; Wahai Tuhan ampunilah dosaku, dosa adalah beban, yang menyebabkan kita berat melangkah menuju ke ridha اللّهُ. Dosa  adalah  kotoran hati yang mem-buat  hati  kelam,  sehingga  hati kita merasa  berat skali untuk melakukan kebaikan.
Warhamnii; Sayangilah diriku, kalau kita disayang اللّهُ hidup akan terasa nyaman, karena dengan kasih sayang-Nya akan dapat dicapai semua cita-cita. Dengan kasih sayang اللّهُ nafsu kita akan terbimbing.
Wajburnii; Tutuplah  segala  kekuranganku, banyak sekali kekurangan kita, kurang syukur,  kurang  sabar,  kurang  bisa menerima kenyataan, mudah marah, pendendam  dan  lainnya. Kalau kekurangan kita ditutup/diperbaiki اللّهُ, maka  kita  akan  menjadi  manusia sebenarnya.
Warfa’nii; Tinggikanlah derajatku, kalau اللّهُ sudah  meninggikan derajat kita, maka pasti  tidak  ada  manusia  yang bisa menghinakan kita.
Warzuqnii; Berikanlah  aku  rizki, sebagai hamba اللّهُ kita  membutuhkan rizki, اللّهُ mampu mendatangkan rizki dari arah yang tak terduga dan tanpa perhitungan.
Wahdini; Berikanlah  aku petunjuk/bimbinglah aku  ke jalan kebahagiaan. Kita tidak hanya  minta petunjuk/hidayah yang berkaitan dengan agama. Tetapi kita juga  minta  petunjuk  agar terhindar dari  mengambil  keputusan  yang di anggap salah.
Wa’aafinii; Berikan lah  aku  kesehatan,  apabila kita sehat, kita bisa menambah kebaikan  dan  manfaat serta tak menjadi beban orang lain.

Wa’fuannii; Aku mohon agar kesalahanku dihapus dari catatan. Dari do'a tersebut diawali do’a dengan mohon  ampun dan kita akhiri dengan permohonan ampunan untuk menghapus  dosa,  sehingga  kita benar-benar bersih.

"Allah SWT memerintahkan kita untuk membaca  do’a  itu,  Rasulullah  SAW mencontohkan  kepada kita, menurut logika do’a tersebut pasti terkabul dan diijabah oleh Allah SWT." (Aamiin YRA)

Terkadang  yang menjadi persoalan, dimana  hati dan pikiran kita, ketika kita membaca do’a itu dan kita tidak hafal arti serta maknanya? Padahal  do'a tersebut begitu dahsyat, dan masih banyak orang sering tergesa gesa  yang  seharusnya  tuma'ninah dengan  meresapi  dan benar-benar meminta kepada Allah SWT. Apabila  dipandang  bermanfaat dan anda  berkenan,  silah  kan  di  share kepada Saudara, sahabat dan handai taulan untuk  semangkin menambah wawasan dan pengetahuan.
Wallahu'alam bissawab
Read more Posted Under: ,


Ceramah IUstadz ABdul Somad


Read more Posted Under:

Read more Posted Under:


Read more Posted Under:
Inilah, 9 KEISTIMEWAAN BAGI ORANG-ORANG YANG SELALU SHALAT TEPAT WAKTU yang merupakan judul nasihat agama yang ditulis oleh ust. Yusuf Mansur. Isi ceramah ini merupakan salah satu dakwah yang beliau (YM) kumpulkan di jejaring sosial, Facebook. Lebih tepatnya di Wisata Hati Ustadz Yusuf Mansur.

Inilah isi catatan agama yang dipersembahkan oleh ust. Yusuf Mansur.

Barang siapa yang MENJAGA (Selalu Mengamalkan) Shalat 5 Waktu Tepat waktu nya,Maka ALLAH Subhanahu Wata'ala akan memberi KEISTIMEWAAN pada Orang itu dengan 9 macam KEISTIMEWAAN:
  1. Cinta ALLAH Selalu Tertuju pada nya.
  2. Tubuh nya akan selalu Sehat. 
  3. Malaikat selalu Melindungi nya.
  4. Berkah ALLAH Selalu turun Kepada nya.
  5. Wajah nya akan tampak bagaikan wajah orang-orang yang Shalih.
  6. ALLAH akan Memberi Kelapangan dada.
  7. Akan melewati titian Shiratal Al-Mustaqim seperti Buraq.
  8. ALLAH akan Menyelamatkan dari Siksaan api Neraka.
  9. ALLAH akan Mensejahterakan tempat nya (Kelak di Akhirat) bersama dengan para Wali-wali NYA,Mereka itu tidak pernah Mengeluh atau Berduka Cita Selama-lamanya. .

(Khalifah Utsman Bin Affan)
Radiyallahu'Anhu
 Semoga BERMANFAAT Untuk kita bersama,Dan semoga kita Bisa MENGAMALKANNYA. .
 Aamiin Ya Rabbal'alamiin. .
Wisata Hati Ustadz Yusuf Mansur

Demikianlah, 9 KEISTIMEWAAN BAGI ORANG-ORANG YANG SELALU SHALAT TEPAT WAKTU. Mudah-mudahan semua penyampaian ust. YM di atas bisa dicerna dengan baik dan dilaksanakan sesuai dengan ajakan beliau. 

Semoga kita semua tergolong orang-orang yang mudah menerima nasihat agama dari siapa saja, termasuk dari ust Yusuf Mansur. (Sumber asli) 
Read more Posted Under: , ,


Kultum ramadhan kali ini kita akan membahas masalah tasyfiatun nufus (penyucian jiwa), dimana menjadi sangat penting untuk pribadi-pribadi muslim saat ini. Sehingga kewajiban untuk para da’i menyampaikannya kepada kaum muslimin, apalagi di momen yang tepat di bulan Ramadhan yang Mulia ini. Berikut ini sajiannya:
Ilustrasi: 

Assalamu alaikum wa rahmatullah wa barakaatuh,
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن، أَمَّا بَعْدُ
Kaum muslimin yang berbahagia
Syukur Alhamdulillah kita haturkan ke hadhirat Allah, Sang Pemberi petunjuk, Yang menguasai dan mengendalikan seluruh hati manusia. Puji syukur kita haturkan pula kepada Allah, karena dengan rahmat dan hidayahnya, kita bisa merasakan nikmatnya ibadah dan ketaatan kepada-Nya.
Hadhirin yang kami hormati,
Seperti yang kita sadari bersama, umumnya manusia sangat sulit untuk melakukan ibadah kepada Allah. Umumnya manusia sangat malas untuk diajak melakukan ketaatan kepada Sang Pencipta. Mengapa?
Kita semua akan memiliki jawaban yang sama, karena manusia dibekali dengan hawa nafsu. Hanya saja, manusia berbeda-beda. Ada yang hawa nafsunya lebih menguasi dirinya, sehingga dia bergelimang dengan maksiat, namun dia tidak merasa bersalah. Ada yang hati nuraninya lebih mendominasi, sehingga dia menjadi hamba yang taat.
Kaum muslimin yang dimuliakan Allah,
Jika kita perhatikan, sejatinya iman, islam, dan ketaatan kepada Allah adalah sebuah kenikmatan. Terdapat banyak dalil yang menunjukkan bahwa ibadah bisa dirasakan kenikmatannya, diantaranya firman Allah ketika menceritakan salah satu kenikmatan yang Allah berikan kepada para sahabat,
وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ
Ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. kalau ia menuruti kemauan kalian dalam beberapa urusan benar-benarlah kalian mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kalian ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hati kalian… (QS. Al-Hujurat: 7).
Atas petunjuk Allah ta’ala, Allah jadikan para sahabat manusia yang bisa menikmati lezatnya iman, bahkan Allah jadikan iman itu sesuatu yang indah pada hati para sahabat. Sehingga kecintaan mereka kepada kebaikan, mengalahkan segalanya.
Kemudian dalam hadis dari Abbas bin Abdul Mutahalib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا
“Akan merasakan nikmatnya iman, orang yang ridha Allah sebagai Rabnya, islam sebagai agamanya, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai rasulnya.”(HR. Muslim, Turmudzi dan yang lainnya).
Dalam hadis di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut tiga kriteria:
  • Orang yang mentauhidkan Allah dengan sepenuhnya, sebagai bukti dia ridha Allah sebagai Rabnya,
  • kemudian dia menjadikan syariat islam sebagai aturan hidupnya, sebagai bukti dia ridha bahwa islam sebagai agamanya
  • dan dia mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hidupnya
orang yang memiliki 3 kriteria ini akan merasakan lezatnya.
Dalam hadis lain, yang mungkin hadis ini sering kita dengar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ المَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
“Tiga hal, siapa yang memilikinya maka dia akan merasakan lezatnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai dari pada selainnya, dia mencintai seseorang hanya karena Allah, dan dia sangat benci untuk kembali kepada kekufuran, sebagaimana dia benci untuk dilempar ke neraka.” (HR. Bukhari, Muslim dan yang lainnya).
Semua dalil di atas menunjukkan betapa iman, islam, dan segala turunannya, merupakan kenikmatan dan bisa dirasakan lezatnya.
Hadhirin, jamaah yang kami hormati,
Yang menjadi tanda tanya kita, mengapa banyak orang justru merasa berat atau bahkan merasa tersiksa ketika melakukan ketaatan? Bisa jadi, bahkan termasuk kita, seringkali masih menganggap ketaatan itu sesuatu yang sulit bagi kita. Lalu dimanakah nikmatnya iman itu?
Jamaah yang berbahagia,
Sejatinya kasus semacam ini juga dialami oleh fisik manusia. Seperti yang kita pahami, hampir semua orang yang mengalami sakit, dia akan susah makan, dan semua terasa pahit. Selezat apapun jenis makanan yang diberikan, orang sakit akan merasakannya sebagai sesuatu yang pahit. Soto pahit, sate pahit, bahkan sitipun pahit rasanya. Kenapa? Karena dia sedang sakit.
Seperti itu pula, orang yang sedang sakit hati dan mentalnya. Selezat apapun nutrisi yang diberikan, dia akan merasakan pahit dan berusaha menolaknya. Dengan ini kita bisa menemukan jawaban, mengapa banyak orang tidak merasakan nikmatnya iman? Karena kebanyakan manusia, hati dan jiwanya sedang sakit.
Jamaah yang berbahagia,
Untuk bisa mengembalikan pada kondisi normal, tentu kita harus berusaha mengobati penyakit itu. Karena jika sakit ini dibiarkan, selamanya kita tidak bisa merasakan nikmatnya nutrisi dan makanan. Hati sakit yang dibiarkan, selamanya akan sulit untuk menikmati lezatnya iman.
Lalu bagaimana cara mengobati hati?
Imam Ibnul Qoyim, dalam karyanya Ighatsatul Lahafan (1/16 – 17) menjelaskan bahwa ada 3 teori pokok untuk mengobati sesuatu yang sakit. Teori ini juga digunakan dalam ilmu medis.
Dalam dunia medis, ketika seorang dokter hendak mengobati pasien, dia akan memberlakukan 3 hal:
Pertama, [حِفْظُ القُوَّة] menjaga kekuatan. Ketika mengobati pasien, dokter akan menyarankan agar pasien banyak makan yang bergizi, banyak istirahat, tenangkan pikiran, tidak lupa, sang dokter juga memberikan multivitamin. Semua ini dilakukan dalam rangka menjaga kekuatan fisik pasien.
Ibnul Qoyim menjelaskan, orang yang sakit hati, salah satu upaya yang harus dia lakukan adalah menjaga kekuatan mentalnya, dengan ilmu yang bermanfaat dan melakukan berbagai ketaatan. Hatinya harus dipaksa untuk mendengarkan nasehat dan ilmu yang bersumber dari Al-Quran dan sunah, serta fisiknya dipaksa untuk melakukan ibadah dan ketaatan. Karena ilmu dan amal, merupakan nutrisi bagi hati manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis riwayat Bukhari, memisalkan ilmu sebagaimana hujan dan hati manusia sebagaimana tanah. Karena hati senantiasa butuh nutrisi berupa ilmu.
Kedua, [الحِمَايَة عَنِ الـمُؤْذِى] melindungi pasien dari munculnya penyakit yang baru atau sesuatu yang bisa memparah sakitnya.
Dalam mengobati pasien, tahapan lain yang dilakukan dokter adalah menyarankan pasien untuk menghindari berbagai pantangan sesuai jenis penyakit yang diderita pasien.
Hal yang sama juga berlaku untuk penyakit hati. Seperti yang dijelaskan Ibnul Qoyim, orang yang sakit harus menghindari segala yang bisa memperparah panyakit dalam hatinya, yaitu dengan menjauhi semua perbuatan dosa dan maksiat. Dia hindarkan dirinya dari segala bentuk penyimpangan. Karena dosa dan maksiat adalah sumber penyakit bagi hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan bagaimana bahaya dosa bagi hati manusia,
إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ» {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}
Sesungguhnya seorang hamba, apabila melakukan perbuatan maksiat maka akan dititikkan dalam hatinya satu titik hitam. Jika dia meninggalkan maksiat itu, memohon ampun dan bertaubat, hatinya akan dibersihakn. Namun jika dia kembali maksiat, akan ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar-raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya, (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.’ (HR. Turmudzi, Ibnu Majah dan sanadnya dinilai kuat oleh Syuaib Al-Arnauth).
Ketiga, [اِسْتِفْرَاغُ الـمَوَاد الفَاسِدَة] menghilangkan penyakit yang ada dalam dirinya
Tahapan terakhir, setelah dokter memastikan jenis penyakit yang diderita pasien, dokter akan memberikan obat untuk menyerang penyakit itu. Dokter akan memberinkan antibiotik dengan dosis yang sesuai, atau obat lainnya yang sesuai dengan penyakit pasien.
Di bagian akhir keterangannya untuk pembahasan ini, Ibnul Qoyim menjelaskan bahwa cara untuk menghilangkan penyakit yang merusak hati adalah dengan banyak bertaubat, beristighfar, memohon ampunan kepada Allah. Jika kesalahan itu harus ditutupi dengan membayar kaffarah maka dia siap membayarnya. Jika terkait dengan hak orang lain, diapun siap dengan meminta maaf kepadanya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan,
التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ، كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ
Orang yang bertaubat dari satu perbuatan dosa, seperti orang yang tidak melakukan dosa itu. (HR. Ibn Majah).
Karena dengan taubat, berarti dia menghilangkan penyakit hati berupa dosa dalam dirinya.
Jamaah yang kami hormati,
Obat yang diberika seorang dokter akan berbeda-beda sesuai dengan jenis dan tingkat penyakit yang diderita pasien.
Dokter akan memberikan penanganan lebih, ketika sakit yang diderita pasien cukup parah, bahkan sampai harus rawat inap di ICU atau bahkan CCU. Dengan rentang waktu berbeda-beda, atau bahkan pemberian obat tanpa batas waktu. Termasuk treatment operasi dan ampuntasi.
Sama halnya dengan mereka yang sakit hatinya. Jika penyakit yang diderita sangat parah, karena pelanggaran yang dilakukan adalah dosa besar, syariat memberikan treatment sampai pada taraf hukuman had, seperti cambuk, potong tangan, pengasingan, qishas, denda, hingga rajam.
Sebagaimana anda tidak dibenarkan untuk menuduh dokter kejam karena melakukan bedah operasi atau amputasi. Anda juga sangat tidak dibenarkan mengatakan islam kejam karena memberikan hukuman kematian.
Allahu a’lam.
Semoga Allah melindungi kita dari segala penyakit hati yang berbahaya, dan menjadikan hati kita, hati yang sehat, yang bisa merasakan lezatnya iman, islam, dan amal soleh.
Amiin..
وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina)
Read more Posted Under: ,
Dua minggu lagi Ramadhan menjelang, insya Allah kita bisa bertemu dengan Ramadhan Tahun ini........


Segala puji bagi Allah Swt. yang telah menciptakan bulan Ramadhan sebagai penghulu dari segala bulan serta melipatgandakan amalan baik manusia di dalamnya. Shalawat beserta salam senantiasa tercurah kepada junjunan kita nabi besar Muhammad Saw. yang telah menerima Alquran sebagai petunjuk, nasehat, rahmat, serta penyembuh bagi seluruh umat manusia.
Umat muslim patut bergembira dengan hadirnya bulan Ramadhan sebab bulan tersebut merupakan bulan ampunan, bulan yang penuh dengan keberkahan, bulanAlquran, bulan kasih sayang, bulan kesabaran, bulan taubat, serta bulan pembebasan dari api neraka. Juga bulan Ramadhan merupakan bulan yang ditunggu-tunggu kehadirannya oleh seluruh umat Muslim. 

Rasulullah Saw. pernah bersabda (berdoa) seputar bulan Ramadhan, "Yaa Allah ... Berkahilah kami pada bulan Rajab dan Syaban serta sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan". Perhatikanlah penyampaian Rasulullah Saw. berikut tentang kedatangan bulan Ramadhan di hadapan para sahabatnya.
"Ketika datang malam pertama di bulan Ramadhan, seluruh setan dibelenggu sertaseluruh jin diikat. Semua pintu-pintu neraka di tutup (dikunci), takada satupun pintu neraka yang terbuka. Kemudian setiap malam datang seorang penyeru, "Wahai orang-orang yang mencari kebaikan kemarilah! Wahai orang-orang yang mencari keburukan menyingkirlah! Hanya Allah lah yang bisa menyelamatkan dari api neraka." (HR At-Tirmidzi).

Pada riwayat lain, Rasulullah Saw. bersabda, “Sudah hadir kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan di dalam bulan Ramadhan untuk berpuasa. Pada bulan Ramadhan Allah membuka pintu langit, menutup pintu neraka, dan membelenggu semua setan. Di dalam bulan Ramadhan Allah memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa yang diharamkan kebaikan malam itu maka ia sungguh telah diharamkan (dari kebaikan).” (HR. Nasa’i dan Baihaki).

Menurut Imam Ibnu Rajab al-Hanbali hadits di atas sebagai sebuah dalil menyambut datangnya bulan Ramadhan yang digunakan setiap muslim untuk memberikan selamat kepada muslim yang lain. Artinya, setiap muslim sangat bergembira dengan diobralnya pahala dari Allah Swt berupa surga yang pintunya dibuka lebar-lebar secara khusus di bulan Ramadhan. 

Bulan Ramadhan dianalogikan sebagai tamu istimewa. Setiap tamu istimewa wajib diperlakukan secara istimewa pula. Tamu istimewa selayaknya disambut dengan sukacita serta memuliakannya. Bayangkan di tempat tinggal kita kedatangan presiden. Presiden adalah pejabat tertinggi pada sebuah negara yang wajib disambut dengan penuh rasa hormat. Dan menyiapkan segala sesuatunya dengan sebaik mungkin. Apalagi dengan menyambut Ramadhan.

Ramadhan lebih dari seorang presiden atau pejabat tinggi lainnya, sebab Ramadhan merupakan anugerah dari Allah Swt. yang nilainya sangat luar biasa. Ramadhan adalah waktu yang bisa dijadikan sebagai kesempatan bagi muslim untuk menyiapkan masa depan baik dunia dan akhirat secara sekaligus. Untuk itu agar muslim bisa meraihnya diperlukan persiapan yang paripurna. Dengan demikian, target untuk mendapatkan gelar takwa serta mendapat janji Allah Swt. berupa terbebas dari siksa api neraka bisa diraih.

Untuk menyiapkan segala kebutuhan dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan, perhatikan beberapa hal berikut ini.
Niat dengan penuh kesungguhan - Ketika bulan Ramadhan datang, pada umumnya masyarakat berbondong-bondong ke pasar atau supermarket untuk  persiapan menjalankan ibadah puasa. Masyarakat biasanya merencanakan anggaran belanja secara khusus sepanjang bulan Ramadhan. Yang seringkali dilupakan oleh umat islam yang menjalankan ibadah puasa adalah niat atau mempersiapkan hati untuk Ramadhan. Setiap bulan Ramadhan datang bertahun-tahun, Ramadhan pada umumnya hanya sekadar ritual belaka, sedikit sekali yang memberikan pengaruh positif. 
Untuk itu, jadikanlah bulan Ramadhan sebagai ajang untuk menghayati dan meresapi esensinya. Untuk itu, di Ramadhan tahun ini mari kita sama-sama menancapkan niat dengan menjadikannya sebagai bulan untuk memperbaiki amalan serta memetik hasilnya berupa pahala yang sebanyak-banyaknya. 

Anggaplah Ramadhan kali ini sebagai bulan puasa terakhir yang akan dilalui, pasalnya tidak ada seorang muslim pun yang mengetahui serta menjamin akan menjumpai Ramadhan pada tahun yang akan datang. Tanamkan tekad yang kuat serta kemurnian dalam menjalankannya dan senantiasa bisa konsisten dalam berbuat baik (amal shaleh). Sabda Rasulullah Saw.: “Barangsiapa yang puasa Ramadhan karena iman dan ikhlas maka Allah akan mengampuni dosanya yang telah lalu.”

Taubat dengan sungguh-sungguh bertaubat - “Setiap manusia adalah pendosa dan sebaik-baik pendosa adalah yang bertaubat” itulah sabda Rasulullah Saw. dalam riwayat Ahmad dan Ibnu Majah. Ramadhan merupakan momentum yang senantiasa datang setiap tahun. Di saat seorang hamba larut dalam kealfaan berupa harta benda, anak istri, dan perhiasan dunia lain yang membuat seorang hamba lupa kepada tuhannya, karena terbius oleh godaan setan, lalu terjatuh ke dalam lembah maksiat, maka datanglah bulan Ramadhan untuk mengingatkannya dari kelalaiannya, membawa kembali jiwa seorang hamba kepada Rabbnya untuk kembali dengan cara bertaubat dengan sungguh-sungguh bertaubat (taubatannasuha).

Memahami beberapa hal yang berhubungan dengan puasa serta ibadah Ramadhan lainnya - Ilmu yang dimaksud dalam hadits tersebut di bawah ini yaitu ilmu yang berkaitan dengan peribadatan yang Allah wajibkan untuk setiap hamba. 


“Menuntut ilmu wajib setiap muslim” (HR. Ibnu Majah)

Setiap muslim wajib mempelajari ilmu tersebut; karena sah atau tidaknya ibadah yang dilakukannya tergantung dengan pengetahuannya tersebut. Sebagai contoh; seorang yang akan shalat tentunya wajib mengetahui beberapa syarat atau beberapa rukun serta beberapa hal yang berpotensi membatalkan shalat dan lain-lainya. Agar shalatnya sesuai dengan tuntutan agama. 

Begitu pun dengan bulan Ramadhan, di bulan ini Allah mewajibkan kepada setiap muslim yang mampu untuk melaksanakan ibadah puasa. Untuk itu, sudah menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk membekali dirinya dengan beberapa hal yang berhubungan dengan beberapa syarat dan beberapa rukun puasa, beberapa hal yang membatalkan puasa, beberapa hal yang dibenci (makruh) dan dibolehkan dalam puasa, beberapa hal yang membatalkan puasa dan sebagainya agar ibadah puasa yang dilakukan sesuai dengan tuntunan syariah dan perbuatannya tidak sia-sia. 

Selain pengetahuan yang berkaitaan dengan puasa, beberapa pengetahuan lain yang berhubungan dengan Ramadhan juga perlu,  misalnya; beberapa anjuran, beberapa prioritas amal yang harus dilakukan dalam Ramadhan, dan sebagainya, tujuannya agar setiap muslim dapat mengoptimalkan bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya.

Persiapan fisik dan jasmani - Menahan diri dari rasa haus serta lapar sepanjang hari selama sebulan tentunya memerlukan kekuatan fisik maksimal. Ditambah dengan energi yang dibutuhkan untuk melaksanakan ibadah pada malam harinya. Menghidupkan setiap hari di waktu malam pada bulan Ramadhan  berupa shalat tarawih dan shalat sunnah lainnya, ditambah lagi memperbanyak tadarus atau membaca Al-Qur’an serta beri’tikaf selama 10 (sepuluh) hari terakhir bulan Ramadhan tentunya sangat menuntut sekali kondisi tubuh yang prima agar semua bentuk peribadatan dari pagi hingga malam hari di bulan Ramadhan mampu dilakukan secara optimal dan maksimal (BACA: Tips Fitness di Bulan Ramadhan). 


Sebelum bulan Ramadhan, banyak muslim berpuasa sunnah, hal ini dilakukan sebagai salah satu cara melatih diri untuk mempersiapkan dan membiasakan diri menghadapi Ramadhan. Sebab itulah Rasulullah Saw. memberikan teladan kepada umatnya dengan cara memperbanyak puasa sunnah pada bulan Sya’ban. Aisyah pernah berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah Saw. berpuasa selama sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa (sunah) lebih banyak dari bulan Sya’ban.” (Muttafaq Alaih).

Beberapa hal yang harus dipersiapkan guna menyambut datangnya bulan Ramadhan.
Selain puasa wajib Ramadhan, terdapat beberapa amalan yang disunahkan pada bulan yang penuh berkah tersebut, di antaranya: 
Mengkhatamkan Al-Qur’an - Bulan Ramadhan merupakan bulan Alquran. Di bulan inilah Alqur’an pertama kali turun dari lauhil mahfuz ke langit dunia. Allah berfirman: 
Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil) [Al-Baqarah: 185]

Bersyukurlah bagi setiap muslim yang mampu membaca Alquran, sebab masih banyak umat islam - khususnya di Indonesia yang masih buta aksara Alquran - Baca: 65% Muslim Tanah Air Buta Aksara AlquranSebagai bentuk antisipasi para orangtua bisamenanamkan alquran dan alhadits kepada anak-anak sejak dini.

Ibnu Abbas RA berkata; "Nabi Muhammad Saw. merupakan orang yang paling dermawan di antara manusia. Kedermawanannya meningkat saat malaikat Jibril menemuinya setiap malam hingga berakhirnya bulan Ramadhan, lalu Nabi membacakan Alquran dihadapan Jibril. Pada saat itu kedermawanan Nabi melebihi angin yang berhembus."

Hadist tersebut di atas mengisyaratkan kepada setiap muslim supaya bertadarus Alquran, serta berkumpul dalam majlis ta'lim alquran pada bulan Ramadhan. Membaca dan belajar Alquran bisa dilakukan di hadapan orang yang lebih mengerti atau lebih hafal Alquran. Selain itu, setiap muslim dianjurkan pula untuk memperbanyak membaca Alquran di malam harinya.

Hal lain yang juga dipetik hikmahnya berdasarkan hadist di atas, yaitu di saat terjadi proses belajar-mengajar antara Nabi Muhammad saw dan Malaikat Jibril, terjadi pada malam hari. Sebab di waktu malam seseorang tidak terganggu oleh pekerjaan rutin. Pada malam hari, suasananya lebih tenang sehingga hati seseorang juga lebih mudah meresapi dan merenungi amalan dan ibadah yang dilakukannya. 


Shalat tarawih - Rasulullah Saw. bersabda: “Barang siapa yang menghidupkan malam bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” 

Shalat tarawih atau berdiri ibadah di bulan Ramadhan tidak ada batasannya. Sebagian orang meyakini dan faham bahwa shalat tarawih tidak boleh kurang dari 20 rakaat, serta sebagian lain memahami, tidak boleh lebih dari 11 atau 13 rakaat. Ini adalah pendapat keliru yang menyalahi dalil. Beberapa hadits menunjukkan bahwa shalat malam merupakan perkara yang luas, tidak ada batasan yang tidak boleh dilanggar. Terbukti terdapat riwayat yang jelas bahwa nabi Saw. pernah shalat 11 rakaat, terkadang 13 rakaat atau kurang dari itu. Saat ditanya tentang shalat malam beliau bersabda: “Dua rakaat dua rakaat, jika seseorang diantara kalian khawatir masuk waktu subuh hendaklah shalat satu rakaat witir.” 
Memperbanyak doa - Orang yang berpuasa ketika berbuka merupakan salah satu orang yang doanya mustajab. Oleh karena itulah setiap orang harus memperbanyak berdoa di saat sedang berpuasa apalagi di saat berbuka. Dalam melakukan doa utamakan berdoda untuk kebaikan diri kita, keluarga, bangsa, dan saudara-saudara kita sesama muslim di belahan dunia. 
Memberi buka puasa (tafthir shaim) - setiap muslim dianjurkan untuk senantiasa menyisihkan harta dan waktunya memberikan ifthar (berbuka) bagi mereka yang berpuasa walaupun hanya seteguk air ataupun sebutir korma. Rasulullah pernah bersabda, "Barang siapa yang memberi ifthar (untuk berbuka) orang-orang yang berpuasa maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tanpa dikurangi sedikitpun". (Bukhari Muslim) 
Bersedekah - Rasulullah Saw. bersabda: “Sebaik-baik sedekah adalah sedekah pada bulan Ramadhan” (HR. Tirmizi). Baca: Alquran dan Alhadits tentang Keutamaan Sedekah

I’tikaf  - I’tikaf merupakan berdiam diri di masjid guna beribadah kepada Allah. I’tikaf disunahkan bagi laki-laki dan perempuan; pasalnya Rasulullah Saw. selalu beri’tikaf, terutama pada 10 (sepuluh) malam yang akhir serta para istri Beliau pun turut ikut I’tikaf bersamanya. Dan hendaknya orang yang melaksanakan I’tikaf memperbanyak zikir, istigfar, membaca Al-Qur’an, berdoa, shalat sunnah dan lain-lain. Di akhir bulan Ramadhan, Allah mewajibkan kepada setiap muslim untuk mengeluarkan zakat fitrah sebagai penyempurna puasa yang dilakukannya. 

Umroh - Ramadhan merupakan waktu terbaik untuk melaksanakan umrah, sebab umroh pada bulan Ramadhan berpahala seperti pahala haji bahkan pahala haji bersama Rasulullah Saw. Beliau bersabda: “Umroh pada bulan Ramadhan seperti haji bersamaku.” 

Memperbanyak berbuat kebaikan - Bulan Ramadhan merupakan kesempatan emas bagi setiap muslim untuk menambah investasi pahalanya di sisi Allah. Dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah dan Baihaki dikatakan bahwa amalan sunnah pada bulan Ramadhan bernilai yang sama dengan amalan wajib dan amalan wajib senilai 70 amalan wajib di luar Ramadhan. Pergunakan sebaik-baiknya setiap peluang untuk berbuat kebaikan sekecil apapun meskipun hanya ‘sekedar’ tersenyum di depan orang lain. 

Demikianlah, "Materi Ceramah: Menyambut Bulan Ramadhan" yang bisa kami share... Semoga kita tergolong orang-orang yang mampu memanfaatkan bulan Ramadhan sebagai momentum untuk mewujudkan ketakwaan diri kita. Sehingga kita bisa sama-sama masuk ke dalam surga dan terbebas dari neraka. Amin 


Read more Posted Under: , ,
Nabi membolehkan kita melakukan bid'ah hasanah.

Apa itu bid'ah hasanah?
Nabi saw memperbolehkan kita melakukan bid'ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah. Sebagaimana sabda beliau saw:
"Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yang buruk dalam Islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya"
(Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi).
Hadits ini menjelaskan makna Bid'ah hasanah dan Bid'ah dhalalah.
Perhatikan hadits beliau saw tersebut. Bukankah beliau saw menganjurkan? Maksudnya bila kalian mempunyai suatu pendapat atau gagasan baru yang membuat kebaikan atas islam maka lakukanlah. Alangkah indahnya bimbingan Nabi saw yang tidak mencekik umat. Beliau saw tahu bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tetapi ribuan tahun akan berlanjut dan akan muncul kemajuan zaman, modernisasi, kematian ulama, merajalelanya kemaksiatan. Pastilah diperlukan hal-hal yang baru demi menjaga muslimin lebih terjaga dalam kemuliaan. Demikianlah bentuk kesempurnaan agama ini yang tetap akan bisa dipakai hingga akhir zaman. Inilah makna sebenarnya dari ayat:
... دِينًا الإسْلامَ لَكُمُ وَرَضِيتُ نِعْمَتِي عَلَيْكُمْ وَأَتْمَمْتُ دِينَكُمْ لَكُمْ أَكْمَلْتُ الْيَوْمَ ..
"Hari ini Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, kusempurnakan pula kenikmatan bagi kalian, dan kuridhoi islam sebagai agama kalian"

Maksudnya semua ajaran telah sempurna, tak perlu lagi ada pendapat lain demi memperbaiki agama ini. Semua hal baru, yang baik, termasuk dalam kerangka syariah, sudah direstui oleh Allah dan rasul Nya. Alangkah sempurnanya Islam.
Namun tentunya hal ini tidak berarti membuat agama baru atau syariat baru yang bertentangan dengan syariah dan sunnah Rasul saw. Atau bahkan menghalalkan apa-apa yang sudah diharamkan oleh Rasul saw atau sebaliknya. Inilah makna hadits beliau saw: "Barangsiapa yang membuat buat hal baru yang berupa keburukan ...". Inilah yang disebut Bid'ah Dhalalah.
Beliau saw telah memahami itu semua, bahwa kelak zaman akan berkembang, maka beliau saw memperbolehkannya (hal yang baru berupa kebaikan), menganjurkannya dan menyemangati kita untuk memperbuatnya, agar umat tidak tercekik dengan hal yang ada di zaman kehidupan beliau saw saja, dan beliau saw telah pula mengingatkan agar jangan membuat buat hal yang buruk (Bid'ah dhalalah).
Mengenai pendapat yang mengatakan bahwa hadits ini adalah khusus untuk sedekah saja, maka tentu ini adalah pendapat mereka yang dangkal dalam pemahaman syariah, karena hadits di atas jelas-jelas tak menyebutkan pembatasan hanya untuk sedekah saja, terbukti dengan perbuatan bid'ah hasanah oleh para Sahabat dan Tabi'in.
Siapakah yang pertama memulai Bid'ah hasanah setelah wafatnya Rasul saw?
Ketika terjadi pembunuhan besar-besaran atas para sahabat (Ahlul yamaamah), yang Huffadh (penghafal) Alqur'an dan Ahli Alqur'an di zaman Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq ra, berkata Abu Bakar Ash-Shiddiq ra kepada Zayd bin Tsabit ra:
"Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas ahlul yamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlul-qur'an. Lalu ia menyarankan agar aku (Abu Bakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis Al Qur'an. Aku berkata, "Bagaimana aku berbuat suatu hal yang tidak diperbuat oleh Rasulullah?" Maka Umar berkata padaku, "Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan kebaikan". Ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar. Engkau (Zayd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Al Qur'an dan tulislah Al Qur'an!"
Zayd menjawab:
"Demi Allah, sungguh bagiku diperintah (untuk) memindahkan sebuah gunung daripada gunung-gunung (yang ada), tidaklah seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan Al Qur'an. Bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah saw?"
Maka Abu Bakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Al Qur'an".
(Shahih Bukhari hadits no. 4402 dan 6768)
Bila kita perhatikan konteks di atas Abu Bakar Shiddiq ra mengakui dengan ucapannya, "Sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar". Hatinya jernih menerima hal yang baru (bid'ah hasanah) yaitu mengumpulkan Al Qur'an, karena sebelumnya Al Qur'an tidak terkumpul dalam satu buku. Tetapi terpisah-pisah di hafalan sahabat, tertulis di kulit onta, di tembok, dihafal. Penulisan Al Qur'an adalah Bid'ah hasanah, justru mereka berdualah yang memulainya.
Kita perhatikan hadits yang dijadikan dalil menafikan (menghilangkan) Bid'ah hasanah mengenai semua bid'ah adalah kesesatan, sebagai berikut.
Diriwayatkan bahwa Rasul saw selepas melakukan Shalat Subuh, menghadap kami dan menyampaikan ceramah yang membuat hati berguncang dan membuat airmata mengalir. Kami berkata:
"Wahai Rasulullah, seakan-akan (hal) ini adalah wasiat untuk perpisahan, maka berikanlah kami wasiat."
Rasul saw bersabda:
"Kuwasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengarkan dan taatlah walaupun kalian dipimpin oleh seorang budak Afrika. Sungguh di antara kalian yang berumur panjang akan melihat sangat banyak_ ikhtilaf perbedaan pendapat, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa'ur rasyidin yang mereka itu pembawa petunjuk. Gigitlah kuat-kuat dengan geraham kalian (kiasan untuk kesungguhan) dan hati-hatilah dengan hal-hal yang baru, sungguh semua yang Bid'ah _itu adalah kesesatan". (Mustadrak Alas-shahihain hadits no. 329).
Jelaslah bahwa Rasul saw menjelaskan pada kita untuk mengikuti sunnah beliau dan sunnah khulafa'ur rasyidin. Sunnah beliau saw telah memperbolehkan hal yang baru selama itu baik dan tak melanggar syariah. Sedangkan sunnah khulafa'ur rasyidin seperti dijelaskan sebelumnya bahwa Abu Bakar Shiddiq ra dan Umar bin Khattab ra menyetujui, menganjurkan, bahkan memerintahkan hal yang baru, yang tidak dilakukan oleh Rasul saw yaitu pembukuan Al Qur'an yang selesai penulisannya di masa Khalifah Utsman bin Affan ra, dengan persetujuan dan kehadiran Ali bin Abi Thalib kw.

Nah, sempurnalah sudah keempat manusia utama di umat ini, khulafa'ur rasyidin melakukan bid'ah hasanah.
• Abu Bakar Shiddiq ra di masa kekhalifahannya memerintahkan pengumpulan Alqur'an
• Umar bin Khattab ra di masa kekhalifahannya memerintahkan tarawih berjamaah dan seraya berkata, "Inilah sebaik-baik Bid'ah!" (Shahih Bukhari hadits no. 1906)
• Penyelesaian penulisan Al Qur'an di masa Khalifah Utsman bin Affan ra hingga Al Qur'an kini dikenal dengan nama Mushaf Utsmaniy.
• Ali bin Abi Thalib kw menghadiri dan menyetujui penulisan Al-Qur'an hingga selesai.
Demikian pula hal yang dibuat-buat tanpa perintah Rasul saw:
Dua kali adzan di Shalat Jumat. Tidak pernah dilakukan di masa Rasul saw. Tidak pula di masa Khalifah Abu Bakar shiddiq ra. Khalifah Umar bin khattab ra pun belum memerintahkannya. Namun baru dilakukan di masa Utsman bn Affan ra, dan diteruskan hingga kini. (Shahih Bulkhari hadits no. 873).
Siapakah yang salah dan tertuduh? Siapakah yang lebih mengerti larangan Bid'ah? Adakah pendapat mengatakan bahwa keempat khulafa'ur rasyidin ini tak paham makna _Bid'ah?
Bid'ah Dhalalah
Jelaslah sudah bahwa mereka yang menolak bid'ah hasanah inilah yang termasuk pada golongan Bid'ah dhalalah. Bid'ah dhalalah ini banyak jenisnya seperti penafikan sunnah, penolakan ucapan sahabat, penolakan pendapat khulafa'ur rasyidin. Di antaranya pula adalah penolakan atas hal baru selama itu baik dan tak melanggar syariah. Karena hal ini sudah diperbolehkan oleh Rasul saw dan dilakukan oleh Khulafa'ur rasyidin, sedangkan Rasul saw telah jelas-jelas memberitahukan bahwa akan muncul banyak ikhtilaf dan menasihatkan umatnya dengan, "Berpeganglah pada sunnahku dan sunnah Khulafa'ur rasyidin."
Bagaimana Sunnah Rasul saw? Beliau saw membolehkan Bid'ah hasanah. Bagaimana sunnah Khulafa'ur rasyidin? Mereka melakukan Bid'ah hasanah. Maka penolakan atas hal inilah yang merupakan Bid'ah dhalalah, hal yang telah diperingatkan oleh Rasul saw.
Bila kita menafikan (meniadakan) adanya Bid'ah hasanah, maka kita telah menafikan dan membid'ahkan Kitab Al-Quran dan Kitab Hadits yang menjadi panduan ajaran pokok Agama Islam karena kedua kitab tersebut (Al-Quran dan Hadits) tidak ada perintah Rasulullah saw untuk membukukannya dalam satu kitab masing-masing. Melainkan hal itu merupakan ijma/kesepakatan pendapat para Sahabat Radhiyallahu'anhum dan hal ini dilakukan setelah Rasulullah saw wafat.
Buku hadits seperti Shahih Bukhari, shahih Muslim dan sebagainya ini pun tak pernah ada perintah Rasul saw untuk membukukannya. Tak pula Khulafa'ur rasyidin memerintahkan menulisnya. Namun para tabi'in mulai menulis hadits Rasul saw. Begitu pula ilmu musthalahul-hadits, nahwu, sharaf, dan lain-lain sehingga kita dapat memahami kedudukan derajat hadits. Ini semua adalah perbuatan Bid'ah namun Bid'ah Hasanah.
Demikian pula ucapan Radhiyallahu 'anhu atas sahabat yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah saw, tidak pula oleh sahabat. Walaupun itu disebut dalam Al-Quran bahwa mereka para sahabat itu diridhoi Allah. Tak ada ayat Qur'an atau hadits Rasul saw yang memerintahkan kita untuk mengucapkan ucapan itu untuk sahabatnya. Namun karena kecintaan para tabi'in pada Sahabat, maka mereka menambahinya dengan ucapan tersebut. Dan ini merupakan Bid'ah Hasanah dengan dalil Hadits di atas. Lalu muncul pula kini Al-Quran yang dikasetkan, di-CD-kan, program Al-Quran di ponsel, Al-Quran yang diterjemahkan. Ini semua adalah Bid'ah hasanah. Bid'ah yang baik yang berfaedah dan untuk tujuan kemaslahatan muslimin, karena dengan adanya Bid'ah hasanah di atas maka semakin mudah bagi kita untuk mempelajari Al-Quran, untuk selalu membaca Al-Quran, bahkan untuk menghafal Al-Quran dan tidak ada yang memungkirinya.
Sekarang kalau kita menarik mundur ke belakang sejarah Islam. Bila Al-Quran tidak dibukukan oleh para Sahabat ra, apa sekiranya yang terjadi pada perkembangan sejarah Islam? Al-Quran masih bertebaran di tembok-tembok, di kulit onta, hafalan para Sahabat ra yang hanya sebagian dituliskan, maka akan muncul beribu-ribu versi Al-Quran di zaman sekarang. Karena semua orang akan mengumpulkan dan membukukannya, masing-masing dengan riwayatnya sendiri, maka hancurlah Al-Quran dan hancurlah Islam. Namun dengan adanya Bid'ah Hasanah, sekarang kita masih mengenal Al-Quran secara utuh dan dengan adanya Bid'ah Hasanah ini pula kita masih mengenal Hadits-hadits Rasulullah saw, maka jadilah Islam ini kokoh dan abadi. Jelaslah sudah sabda Rasul saw yang telah membolehkannya, beliau saw telah mengetahui dengan jelas bahwa hal hal baru yang berupa kebaikan (Bid'ah hasanah), mesti dimunculkan kelak, dan beliau saw telah melarang hal-hal baru yang berupa keburukan (Bid'ah dhalalah).
Saudara-saudaraku, jernihkan hatimu menerima ini semua. Ingatlah ucapan amirul mukminin pertama ini. Ketahuilah ucapannya adalah Mutiara Al-qur'an, sosok agung Abu Bakar Ashiddiq ra berkata mengenai Bid'ah hasanah: "sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar".
Lalu berkata pula Zayd bin Haritsah ra:
"... bagaimana kalian berdua (Abubakar dan Umar) berbuat sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah saw? Maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun (Abu Bakar ra) meyakinkanku (Zayd) sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua".
Maka sebagai penulis himbau saudara-saudaraku muslimin yang kumuliakan, hati yang jernih menerima hal-hal baru yang baik adalah hati yang sehati dengan Abubakar shiddiq ra, hati Umar bin Khattab ra, hati Zayd bin haritsah ra, hati para sahabat, yaitu hati yang dijernihkan Allah swt. Curigalah pada dirimu bila kau temukan dirimu mengingkari hal ini, maka barangkali hatimu belum dijernihkan Allah, karena tak mau sependapat dengan mereka, belum setuju dengan pendapat mereka, masih menolak bid'ah hasanah, dan Rasul saw sudah mengingatkanmu bahwa akan terjadi banyak ikhtilaf, dan peganglah perbuatanku dan perbuatan khulafa'ur rasyidin, gigit dengan geraham yang maksudnya berpeganglah erat-erat pada tuntunanku dan tuntunan mereka.
Allah menjernihkan sanubariku dan sanubari kalian hingga sehati dan sependapat dengan Abubakar Asshiddiq ra, Umar bin Khattab ra, Utsman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib kw dan seluruh sahabat. Amin.
Pendapat para Imam dan Muhadditsin mengenai Bid'ah
al-Hafidh al-Muhaddits al-imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi'i rahimahullah (Imam Syafi'i)
Berkata Imam Syafii bahwa bid'ah terbagi dua, yaitu bid'ah mahmudah (terpuji) dan bid'ah madzmumah (tercela). Yang sejalan dengan sunnah maka ia terpuji, dan yang tidak selaras dengan sunnah adalah tercela. Beliau berdalil dengan ucapan Umar bin Khattab ra mengenai shalat tarawih: "Inilah sebaik baik bid'ah". (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 86-87)
al-imam al-hafidh Muhammad bin Ahmad Al Qurtubiy rahimahullah (Imam Qurtubi)
Menanggapi ucapan ini (dari Imam Syafi'i di atas), maka kukatakan (Imam Qurtubi berkata) bahwa makna hadits Nabi saw yang berbunyi: "Seburuk-buruk permasalahan adalah hal yang baru, dan semua Bid'ah adalah dhalalah" (wa syarrul umuuri muhdatsaatuha wa kullu bid'atin dhalaalah), yang dimaksud adalah hal-hal yang tidak sejalan dengan Alqur'an dan Sunnah Rasul saw, atau perbuatan Sahabat radhiyallahu ‘anhum. Sungguh telah diperjelas mengenai hal ini oleh hadits lainnya: "Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya" (Shahih Muslim hadits no.1017) dan hadits ini merupakan inti penjelasan mengenai bid'ah yang baik dan bid'ah yang sesat. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal 87)

al-muhaddits al-hafidh al-imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawiy rahimahullah (Imam Nawawi)
Penjelasan mengenai hadits: "Barangsiapa membuat-buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang dosanya", Hadits ini merupakan anjuran untuk membuat kebiasaan kebiasaan yang baik, dan ancaman untuk membuat kebiasaan yang buruk, dan pada hadits ini terdapat pengecualian dari sabda beliau saw: "Semua yang baru adalah Bid'ah, dan semua yang Bid'ah adalah sesat". Sungguh yang dimaksudkan adalah hal baru yang buruk dan Bid'ah yang tercela". (Syarh Annawawi ‘ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105)
Dan berkata pula Imam Nawawi bahwa ulama membagi bid'ah menjadi 5, yaitu bid'ah yang wajib, bid'ah yang mandub, bid'ah yang mubah, bid'ah yang makruh dan bid'ah yang haram. Bid'ah yang wajib contohnya adalah mencantumkan dalil-dalil pada ucapan ucapan yang menentang kemungkaran. Contoh bid'ah yang mandub (mendapat pahala bila dilakukan dan tak mendapat dosa bila ditinggalkan) adalah membuat buku ilmu syariah, membangun majelis taklim dan pesantren. Bid'ah yang mubah adalah bermacam-macam dari jenis makanan. Sedangkan bid'ah makruh dan haram sudah jelas diketahui. Demikianlah makna pengecualian dan kekhususan dari makna yang umum. Sebagaimana ucapan Umar ra atas jamaah tarawih bahwa inilah sebaik2 bid'ah". (Syarh Imam Nawawi ala shahih Muslim Juz 6 hal 154-155)
al-Hafidh al-muhaddits al-imam Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthiy rahimahullah (Imam Suyuti)
Mengenai hadits Bid'ah Dhalalah ini bermakna "Aammun makhsush", (sesuatu yang umum yang ada pengecualiannya), seperti firman Allah: "... yang menghancurkan segala sesuatu." (QS. Al-Ahqaf: 25) dan kenyataannya tidak segalanya hancur. Atau pula ayat: "Sungguh telah kupastikan ketentuanku untuk memenuhi jahannam dengan jin dan manusia keseluruhannya." (QS. As-Sajdah: 13) dan pada kenyataannya bukan semua manusia masuk neraka (tapi ayat itu bukan bermakna keseluruhan tapi bermakna seluruh musyrikin dan orang dhalim. pen). Atau hadits: "aku dan hari kiamat bagaikan kedua jari ini" (dan kenyataannya kiamat masih ribuan tahun setelah wafatnya Rasul saw) (Syarh Assuyuthiy Juz 3 hal 189).
Maka bila muncul pemahaman di akhir zaman yang bertentangan dengan pemahaman para Muhaddits maka mestilah kita berhati-hati darimanakah ilmu mereka? Berdasarkan apa pemahaman mereka? Atau seorang yang disebut Imam padahal ia tak mencapai derajat hafidh atau muhaddits? Atau hanya ucapan orang yang tak punya sanad, hanya menukil-menukil hadits dan mentakwilkan semaunya tanpa memperdulikan fatwa-fatwa para Imam?
Dalam tulisan ini penulis dapat menyimpulkan bahwa susuatu yg menyesatkan itu pasti bid’ah,namun tidak semua bid’ah itu adalah sesat. Bila kita perhatikan hadist Rasulullah saw yg mengatakan,..”kullum bid’atin dhalalah kullum dhalalah finnaar”. Bila kita kaji dengan ilmu nahwu (dgn ilmu balaghah dan ma’ani) bahwa terdapat pengulangan pada hadist ini, yang makna “kullum” di sini tidak dpt kita generalisir sebagai satu kesatuan kalimat. Ini menerangkan bahwa ada pada tiap2 bid’ah itu sesat dan tiap2 yang menyesatkan itu pasti bid’ah. Andaikata hadist ini di artikan sebagai penyataan bahwa semua yang bid’ah itu sesat maka secara lughah (bahasa) nabi seharusnya mengatakan,..”kullum bid’atin finnar” (maka jelaslah artinya bahwa tiap2 yg bid’ah itu neraka). Seandainya nabi mengatakan seperti itu, bisa kita bayangkan betapa sulitnya kita hidup di dunia ini.
Demikian kiranya kesimpulan yang dapat penulis uraikan berdasarkan dalil dan nash di atas. Namun lebih kurang penulis mohon maaf bila ada kekurangan dan kesalahan dalam penulisan ini. Karena kebenaran itu sesungguhnya adalah milik Allah dan kekurangan hanyalah milik hamba semata. Tidak lupa shalawat dan salam kami hanarkan kepada baginda Nabi Muhammad saw beserta keluarga dan para sahabat beliau.
Allahummashalli’alasayyidina Muhammadin wa’ala aalihi washahbihi wasallam.
Walillahittaufiq,
Hadya Noer
Read more Posted Under: ,

Popular Post

Comments

Videos

Formulir Kontak

♖Your Name :
✎Your Email *required
✉Your Message *required