Pengembara yang masih tertatih berjalan di bawah bayang fatamorgana

Mantari Bungsu ©

About

Blog ini merupakan catatan pribadi dan kutipan serta tulisan dari berbagai sumber yang penulis rasa layak untuk di publish dan semoga dapat menjadi salah satu bahan referensi dan bacaan yang sifatnya untuk konsumsi personal dan atau lembaga.
Berbagai tulisan terkait pendidikan, agama dan budaya menjadi fokus kami dalam menyajikan tulisan dihadapan netizer.
Berbagai kritikan dan saran serta pandangan dan apresiasi kami harapkan dari netizer yang sempat singgah di blog ini.
Terimakasih.

Resume

Employment

Abdi Negara

Education

IKIP Padang

Portfolio

Taklim

▪ Robighfirlii
▪ Warhamnii
▪ Wajburnii
▪ Warfa’nii
▪ Warzuqnii
▪ Wahdini
▪ Wa’aafinii
▪ Wa’fuannii

Ketika  orang ditanya : “Do’a apakah yang  paling  sering  dibaca oleh se-orang muslim ?”
Banyak  yang  menjawabnya dengan salah. Begitu seringnya do’a itu dibaca,  hingga ketika sedang membaca do’a,  banyak yang tak merasa kalau sedang berdo’a. Padahal  do’a itu sangatlah dahsyat, mencakup  kebutuhan  kita di dunia dan akhirat. Do'a ini dibaca minimal 17 kali setiap hari, ialah do’a diantara dua sujud, marilah kita renungi maknanya :
Robbighfirlii; Wahai Tuhan ampunilah dosaku, dosa adalah beban, yang menyebabkan kita berat melangkah menuju ke ridha اللّÙ‡ُ. Dosa  adalah  kotoran hati yang mem-buat  hati  kelam,  sehingga  hati kita merasa  berat skali untuk melakukan kebaikan.
Warhamnii; Sayangilah diriku, kalau kita disayang اللّÙ‡ُ hidup akan terasa nyaman, karena dengan kasih sayang-Nya akan dapat dicapai semua cita-cita. Dengan kasih sayang اللّÙ‡ُ nafsu kita akan terbimbing.
Wajburnii; Tutuplah  segala  kekuranganku, banyak sekali kekurangan kita, kurang syukur,  kurang  sabar,  kurang  bisa menerima kenyataan, mudah marah, pendendam  dan  lainnya. Kalau kekurangan kita ditutup/diperbaiki اللّÙ‡ُ, maka  kita  akan  menjadi  manusia sebenarnya.
Warfa’nii; Tinggikanlah derajatku, kalau اللّÙ‡ُ sudah  meninggikan derajat kita, maka pasti  tidak  ada  manusia  yang bisa menghinakan kita.
Warzuqnii; Berikanlah  aku  rizki, sebagai hamba اللّÙ‡ُ kita  membutuhkan rizki, اللّÙ‡ُ mampu mendatangkan rizki dari arah yang tak terduga dan tanpa perhitungan.
Wahdini; Berikanlah  aku petunjuk/bimbinglah aku  ke jalan kebahagiaan. Kita tidak hanya  minta petunjuk/hidayah yang berkaitan dengan agama. Tetapi kita juga  minta  petunjuk  agar terhindar dari  mengambil  keputusan  yang di anggap salah.
Wa’aafinii; Berikan lah  aku  kesehatan,  apabila kita sehat, kita bisa menambah kebaikan  dan  manfaat serta tak menjadi beban orang lain.

Wa’fuannii; Aku mohon agar kesalahanku dihapus dari catatan. Dari do'a tersebut diawali do’a dengan mohon  ampun dan kita akhiri dengan permohonan ampunan untuk menghapus  dosa,  sehingga  kita benar-benar bersih.

"Allah SWT memerintahkan kita untuk membaca  do’a  itu,  Rasulullah  SAW mencontohkan  kepada kita, menurut logika do’a tersebut pasti terkabul dan diijabah oleh Allah SWT." (Aamiin YRA)

Terkadang  yang menjadi persoalan, dimana  hati dan pikiran kita, ketika kita membaca do’a itu dan kita tidak hafal arti serta maknanya? Padahal  do'a tersebut begitu dahsyat, dan masih banyak orang sering tergesa gesa  yang  seharusnya  tuma'ninah dengan  meresapi  dan benar-benar meminta kepada Allah SWT. Apabila  dipandang  bermanfaat dan anda  berkenan,  silah  kan  di  share kepada Saudara, sahabat dan handai taulan untuk  semangkin menambah wawasan dan pengetahuan.
Wallahu'alam bissawab
Read more Posted Under: ,
Arifin Heman | Inspirasi dan Motivasi:
JANGAN RISAUKAN OMONGAN ORANG, KARENA SETIAP ORANG MEMBACA DUNIA DENGAN PEMAHAMAN DAN PENGALAMAN YANG BERBEDA

☘Teruslah melangkah, selama engkau di jalan yang baik. Meski terkadang kebaikan tidak senantiasa dihargai.

☘Tak usah repot-repot mau menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun, Karena yang menyukaimu tidak butuh itu, dan yang membencimu tidak percaya itu.

☘Hidup bukan tentang siapa yang terbaik, tapi *Siapa yang mau berbuat baik*.

☘Jangan menghapus Persaudaraan hanya karena sebuah Kesalahan. Namun Hapuslah kesalahan demi lanjutnya Persaudaraan.

☘Jika datang kepadamu gangguan. Jangan berpikir bagaimana cara Membalas dengan yang lebih Perih, tapi *berpikirlah bagaimana cara Membalas dengan yang lebih Baik*.

☘Kurangi mengeluh teruslah berdoa dan berikhtiar. Sibukkan diri dalam kebaikan. Hingga keburukan lelah mengikuti kita. Tugas kita adalah berbuat yang baik & benar* Bukan menghakimi.

☘Memaafkan adalah memaafkan tanpa tapi... Menghargai adalah menghargai tanpa tapi...

☘Jangan pakai hukum sebab akibat untuk membenarkan amarahmu. Karena jika kita baik, amarah tak tumbuh subur. Semoga kita menjadi lebih baik dan bermanfaat.

*Robbana Taqobbal Minna*
Ya Alloh terimalah dari kami (amalan kami), aamiin.
Baarokallahufiikum...

Sumber; http://t.me/arifintips
Read more Posted Under: ,
Inilah, 9 KEISTIMEWAAN BAGI ORANG-ORANG YANG SELALU SHALAT TEPAT WAKTU yang merupakan judul nasihat agama yang ditulis oleh ust. Yusuf Mansur. Isi ceramah ini merupakan salah satu dakwah yang beliau (YM) kumpulkan di jejaring sosial, Facebook. Lebih tepatnya di Wisata Hati Ustadz Yusuf Mansur.

Inilah isi catatan agama yang dipersembahkan oleh ust. Yusuf Mansur.

Barang siapa yang MENJAGA (Selalu Mengamalkan) Shalat 5 Waktu Tepat waktu nya,Maka ALLAH Subhanahu Wata'ala akan memberi KEISTIMEWAAN pada Orang itu dengan 9 macam KEISTIMEWAAN:
  1. Cinta ALLAH Selalu Tertuju pada nya.
  2. Tubuh nya akan selalu Sehat. 
  3. Malaikat selalu Melindungi nya.
  4. Berkah ALLAH Selalu turun Kepada nya.
  5. Wajah nya akan tampak bagaikan wajah orang-orang yang Shalih.
  6. ALLAH akan Memberi Kelapangan dada.
  7. Akan melewati titian Shiratal Al-Mustaqim seperti Buraq.
  8. ALLAH akan Menyelamatkan dari Siksaan api Neraka.
  9. ALLAH akan Mensejahterakan tempat nya (Kelak di Akhirat) bersama dengan para Wali-wali NYA,Mereka itu tidak pernah Mengeluh atau Berduka Cita Selama-lamanya. .

(Khalifah Utsman Bin Affan)
Radiyallahu'Anhu
 Semoga BERMANFAAT Untuk kita bersama,Dan semoga kita Bisa MENGAMALKANNYA. .
 Aamiin Ya Rabbal'alamiin. .
Wisata Hati Ustadz Yusuf Mansur

Demikianlah, 9 KEISTIMEWAAN BAGI ORANG-ORANG YANG SELALU SHALAT TEPAT WAKTU. Mudah-mudahan semua penyampaian ust. YM di atas bisa dicerna dengan baik dan dilaksanakan sesuai dengan ajakan beliau. 

Semoga kita semua tergolong orang-orang yang mudah menerima nasihat agama dari siapa saja, termasuk dari ust Yusuf Mansur. (Sumber asli) 
Read more Posted Under: , ,

Poto: http://tamanulama.blogspot.co.id/2009/12/syeikh-abu-bakar-jabir-al-jazairi-ulama.html


Abu Bakr Jabir al-Jazairi
Wednesday, 03 January 2007

Orang Muslim meyakini bahwa kebahagiaannya di dunia dan akhirat sangat ditentukan oleh sejauh mana pembinaan terhadap dirinya, perbaikan, dan penyucian dirinya. Selain itu, ia meyakini bahwa kecelakaan dirinya sangat ditentukan oleh sejauh mana kerusakan dirinya, pengotorannya, dan kebrengsekannya. Itu semua karena dalil-dalil berikut,

Firman Allah Ta‘ala, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang menjiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (Asy-Syams: 9-10).

“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum, demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan. Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka), demikianlah Kami memberi balasan kepada orang orang yang zhalim. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” (Al-A’raaf: 40-42).

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shallih dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (Al-‘Ashr: 1-3).

Sabda Rasulullah saw., “Semua dan kalian masuk surga, kecuali orang-orang yang tidak mau.” Para sahabat bertanya, “Siapa yang tidak mau masuk surga, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. bersada, “Barangsiapa taat kepadaku, ia masuk surga. Dan barangsiapa bermaksiat kepadaku, ia tidak mau (masuk surga).” (HR Bukhari).

“Semua manusia beramal, dan menjual dirinya memperbaiki dirinya, atau membinasakannya.” (HR Muslim).

Orang Muslim meyakini bahwa sesuatu yang bisa membersihkan dirinya, dan menyucikannya ialah iman yang baik, dan amal shalih. Ia juga meyakini, bahwa sesuatu yang mengotori dirinya, dan merusaknya ialah keburukan kekafiran dan kemaksiatan, berdasarkan dalil-dalil berikut:

Firman Allah Ta‘ala, “Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada sebagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (Huud: 114).

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (Al-Muthaffifin: 14).

Sabda Rasulullah saw., “Sesungguhnya jika seorang Mukmin mengerjakan dosa, maka ada noda hitam di hatinya. Jika ia bertaubat, berhenti (dari dosa tersebut), dan beristighfar, maka hatinya bersih. Jika dosanya bertambah, bertambah pula noda hitamnya, hingga menutupi hatinya.” (HR An-Nasai dan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata bahwa hadits ini hasan shahih).

Noda hitam tersebut tidak lain adalah tutupan hati yang disebutkan Allah Ta‘ala dalam surat Al-Muthaffifin di atas.

“Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada dan tindaklanjutilah kesalahan dengan kebaikan niscaya kebaikan tersebut menghapus kesalahan tersebut, serta bergaulah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR Ahmad, At-Tirmidzi, dan Al-Hakim).

Oleh karena itulah, orang Muslim tidak henti-hentinya membina dirinya, menyucikannya, dan membersihkannya. Sebab, ia orang yang paling layak membinanya, kemudian ia memperbaikinya dengan etika-etika yang membersihkannya, dan membersihkan kotoran-kotorannya. Ia menjauhkan diri dan apa saja yang mengotorinya, dan merusaknya seperti keyakinan-keyakinan yang rusak, ucapan-ucapan yang rusak, dan amal perbuatan yang rusak. Ia melawan dirinya siang malam, mengevaluasinya setiap saat, membawanya kepada perbuatan-perbuatan yang baik, mendorongnya kepada ketaatan, menjauhkannya dari segala keburukan dan kerusakan.
Dalam memperbaiki dirinya, membinanya, dan membersihkannya, orang Muslim menempuh jalan-jalan berikut:

Taubat

Yang dimaksud dengan taubat di sini ialah melepaskan diri dan semua dosa dan kemaksiatan, menyesali semua dosa-dosa masa lalunya. dan bertekat tidak kembali kepada dosa di sisa-sisa umurnya. Itu semua karena dalil-dalil berikut:

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya, mudah-mudahan Tuhan kalian akan menghapus kesalahan-kesalahan kalian, dan memasukkan kalian ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (At Tahrim: 8).

“Dan bertaubatlah kalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung.” (An-Nuur: 31).

“Hai manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah, karena aku bertaubat dalam sehari sebanyak seratus kali.” (HR Muslim).

“Barangsiapa bertaubat sebelum matahari terbit dan barat, maka Allah menerima taubatnya.” (HR Muslim).

“Sesungguhnya Allah membuka Tangan-Nya dengan taubat bagi orang yang berbuat salah di malam hari hingga siang hari, dan bagi orang yang berbuat salah di siang hari hingga malam hari, hingga matahari terbit dari barat.” (HR Muslim).

“Allah lebih berbahagia dengan taubat (kembalinya) hamba-Nya daripada seseorang di tempat sepi dan rawan bahaya dengan hewan kendaraan yang memuat makanan dan minumannya, kemudian ia tidur. Ketika ia bangun, hewan kendaraannya hilang. Ia pun mencarinya hingga ia kehausan. Ia berkata, ‘Aku akan kembali ke tempatku semula, hingga aku mati.’ Kemudian ia letakkan kepalanya di atas lengannya untuk mati. Ketika ia bangun, temyata hewan kendaraannya ada di sisinya lengkap dengan makanan dan minumannya. Jadi, Allah lebih berbahagia dengan taubat (kembalinya) hamba yang Mukmin dan (kebahagiaan) orang tersebut dengan (kembalinya) hewan kendaraan dan bekalnya.” (Muttafaq Alaih).

Diriwayatkan, bahwa para malaikat rnengucapkan ucapan selamat kepada Nabi Adam atas taubatnya, karena Allah menerima taubatnya. (Al-Ghazali dalam Ihya'-nya).

Muraqabah

Maksudnya, orang Muslim mengkondisikan dirinya merasa diawasi Allah Ta ‘ala di setiap waktu kehidupan hingga akhir kehidupannya, bahwa Allah Ta‘ala melihatnya, mengetahui rahasia-rahasianya, memperhatikan semua amal perbuatannya, mengamatinya, dan mengamati apa saja yang dikerjakan oleh semua jiwa. Dengan cara seperti itu, diri orang Mukmin selalu merasakan keagungan Allah Ta ‘ala dan kesempumaan-Nya, tentram ketika ingat nama-Nya, merasakan ketentraman ketika taat kepada-Nya, ingin bertetanggaan dengan-Nya, datang menghadap kepada-Nya, dan berpaling dan selain-Nya.

Inilah yang dimaksudkan dengan Islamisasi wajah dalam firman Allah Ta’ala,

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus?” (An-Nisa’: 125).

“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dan orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya Ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh.” (Luqman: 22).

Itulah intisari seruan Allah Ta’ala dalam firman-Nya, “Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu maka takutlah kepada-Nya.” (Al-Baqarah: 235).

Atau dalam firman-Nya, “Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Qur ‘an dan kalian tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu pada waktu kalian melakukannya.” (Yunus: 22).

Atau dalam sabda Rasulullah saw., “Sembahlah Allah seperti engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak bisa melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (Muttafaq Alaih).

Jalan itulah yang dilalui para pendahulu kita dan para Salafush shalih. Mereka membawa diri mereka kepadanya hingga akhir hayat mereka, dan mereka berhasil mencapai derajat muqarra bin (hamba-hamba yang dekat dengan Allah). Bukti-bukti berikut bersaksi untuk mereka:

1. Ditanyakan kepada Al-Junaid, “Bagaimana kiat menahan pandangan?” Al-Junaid, “Yaitu pengetahuanmu, bahwa pandangan Dzat yang melihatmu itu lebih dahulu dan lebih cepat daripada penglihatanmu kepada sesuatu yang engkau lihat.”

2. Sufyan Ats-Tsauri berkata, “Hendaklah engkau merasa diawasi oleh Dzat yang mengetahui apa saja yang ada padamu. Hendaklah eng kau berharap kepada Dzat yang memenuhi (harapanmu). Dan hendaklah engkau takut kepada Dzat yang memiliki hukuman.”

3. Ibnu Al-Mubarak berkata kepada seseorang, “Hai si Fulan, hendaklah engkau merasa diawasi Allah.” Orang tersebut bertanya kepada Ibnu Al-Mubarak tentang apa yang dimaksud dengan pengawasan Allah, kemudian Ibnu Al-Mubarak menjawab, “Jadilah engkau seperti orang yang bisa melihat Allah selama-lamanya.”

4. Abdullah bin Dinar berkata, “Pada suatu hari, aku pergi ke Makkah bersama Umar bin Khaththab. Di salah satu jalan, kami berhenti untuk istirahat, tiba-tiba salah seorang penggembala turun kepada kami dari gunung. Umar bin Khaththab bertanya kepada penggem bala tersebut, ‘Hai penggembala, juallah seekor kambingmu kepada kami.’ Penggembala tersebut berkata, ‘Kambing-kambing ini bukan milikku, namun milik majikanku.’ Umar bin Khaththab berkata, ‘Katakan saja kepada majikanmu, bahwa kambingnya dimakan serigala.’ Penggembala yang budak tersebut berkata, ‘Kalau begitu, di mana Allah?’ Umar bin Khaththab menangis, kemudian ia pergi ke majikan penggembala tersebut, lalu membeli budak tersebut, dan memerdekakannya.”

5. Dikisahkan bahwa salah seorang shalih berjalan melewati orang-orang yang sedang melempar, sedang salab seorang dan mereka duduk menyendiri dari mereka. Orang shalih tersebut pergi kepada orang tersebut, dan ingin mengajaknya bicara, namun orang tersebut lebih dahulu berkata kepadanya, “Dzikir kepada Allah itu jauh lebih nikmat.” Orang shalih bertanya kepada orang tersebut, “Engkau sendirian di sini?” Orang tersebut menjawab, “Aku bersama Tuhanku dan dua malaikat.” Orang shalih bertanya kepada orang tersebut, “Siapa yang mendahului orang-orang tersebut?” Orang tersebut menjawab, “Yaitu orang-orang yang diampuni Allah.” Orang shalih bertanya kepada orang tersebut, “Di manakah jalan itu?” Orang tersebut membeni isyarat ke langit, kemudian ia berdiri dan pergi.

6. Dikisahkan bahwa ketika Zulaikha berduaan dengan Yusuf AS, ia pergi ke patung, kemudian menutupnya dengan kain. Nabi Yusuf AS bertanya, “Engkau ada apa? Engkau malu kepada pengawasan benda padat kepadamu, dan tidak malu kepada pengawasan Raja Teragung (Allah) kepadamu?”

Salah seorang shalih menyenandungkan syair,

Jika Anda menyendiri dengan zaman pada suatu hari,
Anda jangan katakan, ‘Aku telah menyendiri,’
Namun katakan, ‘Zaman mengawasiku.’
Sedetik pun Anda jangan beranggapan bahwa Allah lengah
Dan bahwa Allah tidak mengetahui apa yang Anda rahasiakan.
Tidakkah Anda lihat, bahwa hari ini cepat berlalu
Dan bahwa hari esok sudah dekat bagi orang-orang yang menunggunya?

Muhasabah (Evaluasi)

Karena orang Muslim siang-malam bekerja untuk kebahagiaannya di akhirat, kemuliaan dari Allah Ta‘ala, keridhaan-Nya, dan karena dunia adalah tempat beramal, maka ia harus melihat ibadah-ibadah wajib seperti penglihatan pedagang kepada modal bisnisnya, ia melihat ibadah-ibadah sunnah seperti penglihatan pedagang terhadap keuntungan bisnisnya, dan melihat kemaksiatan dan dosa sebagai kerugian dalam dunia bisnis. Kemudian ia berduaan dengan dirinya sesaat di akhir harinya guna mengadakan muhasabah (evaluasi) terhadap dirinya atas amal perbuatannya sepanjang siang harinya.

Jika ia melihat dirinya kurang mengerjakan ibadah-ibadah wajib, ia mencela dirinya, dan memarahinya, kemudian memaksanya melaksanakan ibadah-ibadah wajib tersebut saat itu juga jika ibadah-ibadah wajib tersebut termasuk yang harus ditunaikan saat itu juga, dan jika ibadah ibadah wajib tersebut tidak termasuk yang harus ditunaikan saat itu juga maka ia harus memperbanyak mengerjakan ibadah-ibadah sunnah.

Jika ia melihat dirinya kurang dalam mengerjakan ibadah-ibadah sunnah, maka ia mengganti kekurangannya dan memaksa dirinya melakukannya. Jika ia melihat kerugian karena ia mengerjakan dosa, maka ia beristighfar, menyesalinya, bertaubat, dan mengerjakan amal shalih yang bisa memperbaiki apa yang telah dirusaknya.

Inilah yang dimaksud dengan muhasabah terhadap diri sendiri. Inilah salah satu cara perbaikan diri (jiwa), pembinaannya, penyuciannya, dan pembersihannya, berdasarkan dalil-dalil berikut:

1. Firman Allah Ta‘ala, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah di diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (Al-Hasyr: 18).

“Hendaklah setiap diri memperhatikan” adalah perintah untuk mengadakan muhasabah (evaluasi) terhadap diri atas apa yang diperbuatnya untuk menyongsong hari esok.

2. Firman Allah Ta‘ala, “Dan bertaubatlah kalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kalian beruntung.” (An-Nuur: 31).

3. Sabda Rasulullah saw., “Sesungguhnya aku bertaubat kepada Allah, dan beristightighfar kepada-Nya sebanyak seratus kali dalam satu hari.” (Diriwayatkan Muslim).

4. Umar bin Khattab ra berkata, “Evaluasilah (hisablah) diri kalian, sebelum kalian dievaluasi.”

Yang semakna dengannya ialah hadits yang diriwayatkan At-Tirmidzi dengan sanad yang baik dari Rasulullah saw. bahwa beliau bersabda,

“Orang cerdas ialah yang menyiapkan dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian, sedang orang lemah ialah orang yang mengikutkan dirinya kepada hawa nafsunya dan berkhayal kosong kepada Allah.”

5. Adalah Umar bin Khaththab ra, jika waktu malam telah tiba, ia memukul kedua kakinya dengan berkata kepada dirinya, “Apakah yang telah engkau kerjakan siang tadi?”

6. Adalah Thalhah r.a. jika disibukkan oleh perkebunannya hingga ia tidak bisa menghadiri shalat jama’ah, maka ia mengeluarkan sedekah untuk Allah Ta’ala dari perkebunannya. Ini tidak lain adalah muhasabah darinya terhadap dirinya, dan kemarahannya terhadap dirinya.

7. Dikisahkan bahwa Al-Ahnaf bin Qais mendekat ke lampu, kemudian ia meletakkan jari-jarinya di dalamnya hingga merasakan panasnya, sambil berkata, “Hai Al-Ahnaf, apa yang mendorongmu mengerjakan ini dan itu pada hari ini? Apa yang mendorongmu mengerjakan ini dan itu pada hari ini?”

8. Dikisahkan bahwa salah seorang dari orang-orang shalih berjihad, tiba-tiba terlihat olehnya seorang wanita, dan ia pun melihatnya, kemudian mengangkat tangannya, menampar matanya, dan mencukilnya, sambil berkata, “Sesungguhnya melihat kepada sesuatu yang merugikanmu.”

9. Salah seorang dari orang shalih berjalan melewati rumah, kemudian ia berkata, “Kapan rumah ini dibangun?” Usai berkata seperti itu, ia sadar, dan buru-buru berkata kepada dirinya, “Engkau menanyakan sesuatu yang tidak ada kaitan denganmu. Aku pasti menghukummu dengan berpuasa setahun.” Ia pun berpuasa selama setahun.

10. Dikisahkan bahwa salah seorang dari orang shalih pergi ke padang pasir yang panas, kemudian ia berguling-guling di atasnya, sambil berkata, “Diriku, rasakan ini dan Neraka Jahannam itu lebih panas dari panas padang pasir ini. Engkau busuk di malam hari dan pengangguran di siang hari.”

11. Salah seorang dari orang shalih menghadapkan penglihatannya ke atap rumah, tiba-tiba ia melihat seorang wanita, dan ia pun melihat kepadanya. Kemudian ia menghukum dirinya dengan tidak melihat ke langit selagi ia hidup.

Begitulah, para salafush shalih mengevaluasi diri mereka atas ketidakseriusannya, memarahinya atas kelalaiannya, mewajibkannya bertakwa, dan melarangnya mengikuti hawa nafsu, karena mengikuti firman Allah Ta’ala,

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dan keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya).” (An-Nazi’ at: 40-41).

Mujahadah (Perjuangan)

Orang Muslim mengetahui bahwa musuh besarnya ialah hawa nafsu yang ada dalam dirinya, bahwa watak hawa nafsu adalah condong kepada keburukan, lari dari kebaikan, dan memerintahkan kepada keburukan seperti dikatakan Zulaikha dalam Al-Qur’an,

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan.” (Yusuf: 53).

Selain itu, watak hawa nafsu ialah senang malas-malasan, santai, dan menganggur, serta larut dalam syahwat, kendati di dalamnya terdapat kecelakaan dan kebinasaannya.

Jika orang Muslim mengetahui itu semua, maka ia memobilisasi diri untuk berjuang melawan hawa nafsunya, mengumumkan perang, mengangkat senjata untuk melawannya, dan bertekat mengatasi seluruh perjuangannya melawan hawa nafsu, dan menantang syahwatnya. Jika hawa nafsunya menyukai kehidupan santai, maka ia membuatnya lelah. Jika hawa nafsunya menginginkan syahwat, maka ia melarangnya. Jika dirinya tidak serius dalam ketaatan dan kebaikan, maka ia menghukumnya dan memarahinya, kemudian ia mewajibkannya mengerjakan apa yang tidak ia kerjakan dengan serius, dan mengganti apa yang ia sia-siakan dan ia tinggalkan. Ia bawa dirinya ke dalam pembinaan seperti itu hingga dirinya menjadi tentram, bersih, dan menjadi baik. Itulah tujuan utama mujahadah (perjuangan) terhadap hawa nafsu (diri).

Allah Ta‘ala berfirman, “Dan orang-orang yang berjihacl untuk (mencari keria’haan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Ankabut: 69).

Ketika orang Muslim berjuang melawan dirinya agar menjadi baik, bersih, suci, tentram, berhak mendapatkan kemuliaan Allah Ta‘ala, dan keridhaan-Nya, maka ia mengetahui bahwa ini adalah jalan orang-orang shalih dan orang-orang yang jujur, kemudian ia berjalan di atas jalan tersebut karena ingin meniru mereka dan menapaktilasi jejak-jejak mereka. Rasulullah saw. saja melakukan qiyamul lail hingga kedua kakinya bengkak. Tentang hal tersebut, Rasulullah saw. pernah ditanya, kemudian beliau menjawab, “Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?” (Diriwayatkan Muslim).

Adakah mujahadah yang lebih tinggi dari mujahadah Rasulullah saw. di atas? Demi Allah, tidak ada.
Ali bin Abu Thalib ra tentang sahabat-sahabat Rasulullah saw., “Demi Allah, aku melihat Rasulullah saw. dan aku tidak melihat sesuatu yang mencurigakan mereka. Pada pagi hari, rambut mereka kusut, berdebu, dan pucat, karena tidak tidur semalam suntuk untuk sujud, dan berdiri shalat, membaca Kitabullah, dan istirahat di antara kaki mereka dengan kening mereka. Jika mereka dzikir kepada Allah, mereka bergoyang sebagaimana pohon bergoyang ketika tertiup angin. Mata mereka bercucuran dengan airmata hingga pakaian mereka basah kuyup.”

Abu Ad-Darda’ ra “Tanpa tiga hal, aku tidak tertarik hidup, meskipun sehari saja, yaitu haus untuk Allah di siang hari yang panas, sujud untuk-Nya di pertengahan malam, dan duduk dengan orang-orang yang memilih ucapan-ucapan yang bagus, sebagaimana buah-buahan yang bagus dipilih.”

Umar bin Khaththab ra memarahi dirinya karena’ ia ketinggalan shalat Ashar berjama’ah, kemudian bersedekah dengan area tanahnya yang harganya kira-kira dua ratus dirham.

Jika Abdullah bin Umar ra ketinggalan shalat jama’ah, ia menghidupkan (tidak tidur untuk ibadah) malam harinya. Pada suatu hari, ia menunda shalat Maghrib hingga dua bintang terbit, kemudian ia memerdekakan dua budaknya.

Ali bin Abu Thalib ra berkata, “Semoga Allah merahmati orang-orang yang dikira manusia sakit, padahal mereka tidak sakit.” Itu tidak lain adalah pengaruh mujahadah mereka terhadap dirinya.
Rasulullah saw. bersabda, “Manusia terbaik ialah orang yang panjang umurnya, dan baik amal perbuatannya.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi dan ia meng-hasan-kannya).

Uwais Al-Qarni Rahimahullah berkata, “Malam mi adalah malam ruku’.” Kemudian ia hidupkan seluruh malam tersebut dengan ruku’. Pada malam berikutnya, ia berkata, “Malam ini adalah malam sujud.” Ia pun menghidupkan seluruh malam tersebut dengan sujud.

Tsabit Al-Bunani Rahimahullah berkata, “Aku perah bertemu dengan orang-orang di mana salah seorang dari mereka shalat, kemudian ia tidak bisa pergi ke tempat tidurnya kecuali dengan merangkak. Salah seorang dan mereka qiyamul lail hingga kedua kakinya bengkak karena terlalu lama berdiri. Keseriusan mereka dalam ibadah sampai pada tarap jika dikatakan kepada mereka bahwa kiamat akan terjadi besok, maka mereka tidak akan menambah ibadahnya. Jika musim dingin tiba, ia berdiri di atap rumah agar ia diterpa hawa dingin sehingga tidak bisa tidur. Jika musim panas tiba, maka ia berdiri di bawah atap rumah, agar panas matahari membuatnya tidak bisa tidur. Salah seorang dan mereka meninggal dunia dalam keadaan sujud.”

Istri Masruq Rahimahullah berkata, “Masruq tidak ditemui, kecuali kedua betisnya bengkak karena saking lamanya qiyamul lail. Demi Allah, pada suatu kesempatan, saya berdiri di belakangnya ketika ia berdiri qiyam ullail, kemudian aku menangis karena iba terhadapnya.”

Jika salah seorang dan salafush shalih telah berumur empat puluh tahun, maka ia melipat kasurnya, dan tidak pernah lagi tidur di atasnya.

Dikisahkan bahwa salah seorang istri dan para salafsuh shalih yang bernama Ajrah yang telah buta berdoa dengan suara yang memilukan jika waktu sahur telah tiba, “Ya Allah, kepada-Mu orang-orang ahli ibadah mengarungi kegelapan malam untuk berlomba kepada rahmat-Mu, dan karunia ampunan-Mu. Ya Allah, dengan-Mu, aku meminta kepada-Mu, dan tidak kepada selain-Mu, hendaknya Engkau menjadikanku orang terdepan di rombongan orang-orang as-sabiqun (orang-orang yang cepat kepada kebaikan), mengangkat-Ku di sisi-Mu di 'illiyyin di derajat makhluk-makhluk yang didekatkan kepada-Mu, dan menyusulkan kepada hamba-hamba-Mu yang shalih. Engkau Dzat yang paling penyayang, Dzat yang paling agung dan Dzat yang paling mulia, wahai Dzat yang paling mulia.” Usai berdoa seperti itu, ia sujud. Ia tidak henti-hentinya berdoa, dan menangis hingga waktu shalat Shubuh tiba.

Sumber: Diadaptasi dari Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Minhaajul Muslim, atau Ensiklopedi Muslim: Minhajul Muslim, terj. Fadhli Bahri (Darul Falah, 2002), hlm. 121-131.
Read more Posted Under: , ,

Abu Bakr Jabir al-Jazairi
Sunday, 25 March 2007

Orang Muslim dalam kapasitasnya sebagai orang Muslim berpegang teguh kepada Kitab Tuhannya, dan Sunnah Nabi-Nya. Ia hidup di bawah naungan keduanya, dan mengatur seluruh kehidupannya berdasarkan keduanya, karena dalil-dalil berikut:

Firman Allah Ta’ala, “Dan tidaklah patut bagi laki-laki Mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan Mukminah, apakah Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (Al-Ahzab: 36).

“Apa yang diberikan Rasul kepada kalian maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagi kalian maka tinggalkanlah.” (Al-Hasyr: 7).

Sabda Rasulullah saw.,

“Salah seorang dari kalian tidak beriman hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.” (Diriwayatkan Imam Nawawi dalam Al-Arba’in. Ia berkata, “Hadits ini hasan shahih yang kami riwayatkan dalam buku Al-Hujjah”)

“Barangsiapa mengerjakan suatu amalan yang tidak termasuk dalam perintah kami, maka bertolak.”

Oleh karena itu, orang Muslim menerapkan etika-etika terhadap sifat-sifat fitrah yang ditegaskan Rasulullah saw.,

“Fitrah itu ada lima: Mencukur rambut di sekitar kemaluan, khitan, memotong kumis, mencabut di ketiak, dan memotong kuku.”

Etika-etika tersebut adalah sebagai berikut :

Khitan, yaitu memotong kulit yang menutupi ujung kemaluan laki-laki. Khitan disunnahkan dilakukan pada hari ke tujuh setelah kelahiran, karena Rasulullah saw. mengkhitan Al-Hasan dan Al-Husain, anak Fathimah Az-Zahra’ dan Ali bin Abu Thalib pada hari ketujuh kelahirannya. Pelaksanaan khitan boleh ditunda hingga anak sebelum mencapai usia baligh, karena Rasulullah saw. mengkhitan Ibrahim pada usia delapan tahun. Diriwayatkan bahwa jika ada seseorang masuk Islam di hadapan Rasulullah saw., maka beliau bersabda, “Buanglah darimu rambut kekafiran, dan berkhitanlah.”

Memotong kumis. Orang Muslim harus memotong kumisnya yang memanjang hingga sampai kedua bibirnya.

Adapun jenggot, maka ia membiarkannya hingga memenuhi wajahnya, karena sabda-sabda Rasulullah saw. berikut:

“Potonglah kumis, panjangkan jenggot, dan berbedalah dari orang-orang Majusi.” (Diriwayatkan Muslim).

“Berbedalah dari orang-orang musyrikin, potonglah kumis, dan panjangkan jenggot.”

Jadi diharamkan mencukur jenggot. Selain itu, orang Muslim harus menghindari mencukur sebagian rambut dan membiarkan sebagian yang lain, karena Ibnu Umar ra berkata bahwa Rasulullah saw. melarang mencukur sebagian rambut dan membiarkan sebagian yang lain. (Muttafaq Alaih).

Orang Muslim juga harus menghindari mengecat jenggotnya dengan warna hitam, karena Rasulullah saw. bersabda ketika ayah Abu Bakar dihadapkan kepada beliau pada saat penaklukan Makkah dalam keadaan rambutnya sudah memutih,

“Bawa dia ke salah satu istri-istrinya, dan hendaklah salah satu dari istrinya mengubahnya dengan sesuatu dan hindarilah warna hitam. Adapun mewarnai dengan pohon anai (pacar), dan pohon katam, maka disunnahkan mewarnai dengannya.” (Muttafaq Alaih).

Jika orang Muslim membiarkan rambut kepalanya dan tidak mencukurnya, maka ia memulihkannya dengan menggunakan minyak, karenanya Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa mempunyai rambut banyak, hendaklah ia memuliakannya.” (Diriwayatkan Abu Daud dengan sanad yang baik).

Mencabut rambut di ketiak. Orang Muslim harus mencabut rambut di ketiaknya. Jika ia tidak bisa mencabutnya, ia mencukurnya, atau mengolesinya dengan kapur barus agar hilang.

Memotong kuku. Orang Muslim harus memotong kukunya. Ia disunnahkan memulai memotong kukunya di tangan kanannya, kemudian kuku di tangan kirinya, kemudian kuku di kaki kanannya, kemudian kuku di kaki kirinya, karena Rasulullah saw. senang memulai memotong kuku dari yang kanan.

Orang Muslim melakukan kelima hal tersebut dengan niat pahala mengikuti beliau, dan bersunnah dengan sunnahnya, karena segala amal perbuatan itu harus dengan niat, dan setiap orang itu tergantung pada niatnya.

Sumber: Diadaptasi dari Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Minhaajul Muslim, atau Ensiklopedi Muslim: Minhajul Muslim, terj. Fadhli Bahri (Darul Falah, 2002), hlm. 208-210.

Terakhir kali diperbaharui ( Thursday, 22 November 2007 )
Read more Posted Under: , ,

Abu Bakr Jabir al-Jazairi
Tuesday, 20 March 2007
Orang Muslim meyakini bahwa bepergian adalah salah satu kebutuhan hidupnya yang tidak terpisahkan darinya. Sebab, haji, umrah, perang, menuntut ilmu, berbisnis, dan melindungi saudara-saudara seakidahnya, itu semua kewajiban yang menghendaki perjalanan dan bepergian. Oleh karena itulah, Allah Ta‘ala memberi perhatian besar terhadap hukum hukum dan etika-etikanya. Orang Muslim harus mempelajari itu semua dan merealisirnya.

Hukum-hukum Bepergian

Di antara hukum-hukum bepergian ialah sebagai berikut:

1. Musafir mengqashar shalat-shalat yang empat rakaat, kemudian ia shalat dua raka'at kecuali shalat Maghrib maka ia harus mengerjakannya tiga raka'at, ia mulai mengqashar shalat sejak ia meninggalkan daerahnya hingga kembali padanya, kecuali jika ia berniat menetap empat hari atau lebih di daerah tujuannya, atau ia singgah di dalamnya maka ia tidak boleh mengqashar shalat dan jika ia pulang ke daerahnya maka ia boleh kembali mengqashar shalat hingga ia tiba di daerahnya. Itu semua karena dalil-dalil berikut:

Firman Allah Ta‘ala, "Dan apabila kalian bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kalian menqashar shalat." (An-Nisa: 101).

Anas bin Malik ra berkata, "Kami bersama Rasulullah saw. keluar dari Madinah ke Makkah, dan beliau mengerjakan shalat-shalat empat raka'at dengan dua raka'at hingga kita kembali ke Madinah." (Diriwayatkan An-Nasai dan At-Tirmidzi yang men-shahih-kannya).

2. Musafir diperbolehkan berwudhu dengan mengusap sepatunya selama tiga hari tiga malam, karena Ali bin Abu Thalib ra berkata "Rasulullah saw. membolehkan mengusap sepatu selama tiga hari tiga malam bagi musafir, dan satu hari bagi orang mukim." (Diriwayatkan Muslim, Ahmad, An-Nasai, dan Ibnu Majah).

3. Musafir diperbolehkan bertayammum jika ia kehabisan air, atau sulit mendapatkannya, atau harganya mahal, karena Allah Ta'ala berfirman,

"Dan jika kalian sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dan tempat buang air atau kalian telah menyentuh perempuan, kemudian kalian tidak mendapat air, maka bertayamumlah kalian dengan tanah yang baik (suci), sapulah muka kalian dan tangan kalian." (An-Nisa': 43)

4. Musafir mendapatkan rukhshah (keringanan) boleh tidak berpuasa selama dalam pejalanannya, karena Allah Ta'ala berfirman, "Maka barang siapa di antara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari yang lain." (Al-Baqarah: 184).

5. Musafir diperbolehkan mengerjakan shalat sunnah di atas kendaraan ke mana pun kendaraan tersebut mengarah, karena Ibnu Umar ra berkata, "Rasulullah saw. mengerjakan shalat sunnah ke mana pun hewan kendaraannya mengarah." (Muttafaq Alaih).

6. Musafir diperbolehkan men-jamak shalat Maghrib dengan shalat Ashar, atau shalat Maghrib dengan shalat Isya' dengan jamak taqdim jika perjalanan membuatnya sulit, kemudian ia kerjakan shalat Dzuhur dan shalat Ashar di waktu shalat Dzuhur, dan shalat Maghrib dan shalat Isya' di waktu shalat Maghrib. Atau ia menjamak ta'khir dengan mengakhirkan shalat shalat Dzuhur ke awal shalat Ashar kemudian ia kerjakan shalat Dzuhur dan shalat Ashar di waktu shalat Ashar, dan ia akhirkan shalat Maghrib ke waktu shalat Isya' kemudian ini kerjakan dua-duanya di waktu shalat Isya'. Karena Muadz bin Jabal ra berkata, "Kami keluar bersama Rasulullah saw. pada Perang Tabuk, kemudian beliau kerjakan shalat Dzuhur dan shalat Ashar secara jamak, dan mengerjakan shalat Maghrib dan shalat Isya' secara jamak." (Muttafaq Alaih).

Etika-Etika Perjalanan

Di antara etika-etika perjalanan adalah sebagai berikut:

1. Musafir harus mengembalikan barang-barang yang pernah dirampasnya kepada pemiliknya, dan barang-barang titipan kepada pemiliknya, sebab perjalanan itu identik dengan kematian.

2. Musafir menyiapkan perbekalannya dan sumber yang halal dan meninggalkan uang belanja kepada orang yang wajib ia nafkahi seperti istri, anak, dan orang tua.

3. Musafir pamit kepada keluarga, saudara-saudara, dan teman-temannya, dan berdoa dengan berikut kepada orang yang ia pamiti, "Aku titipkan kepada Allah agama kalian, amanah kalian, dan penutup amal perbuatan kalian."

Kemudian orang-orang yang ia pamiti membalas doanya dengan mengatakan, "Semoga Allah membekalimu dengan takwa, mengampuni dosa-dosamu, dan mengarahkanmu kepada kebaikan dimana saja engkau berjalan."

Sabda Rasulullah saw., "Sesungguhnya Luqman berkata, ‘Sesungguhnya jika Allah dititipi sesuatu, Dia pasti menjaganya'." (Diriwayatkan An-Nasai dengan sanad yang baik).

Kepada orang-orang yang mengantarkan kepergiannya, Rasulullah saw. bersabda, "Aku titipkan kepada Allah agama kalian, amanahmu, dan penutup amal perbuatan kalian." (Ditiwayatkan Abu Daud).

4. Musafir bepergian dengan ditemani empat orang, atau tiqa orang dan orang-orang; yang telah ia seleksi sebelumnya dari orang-orang yang layak bepergian dengannya, karena perjalanan itu membongkar jati diri orang. Dinamakan safar (perjalanan) karena ia memperlihatkan akhlak manusia.

Sabda Rasulullah saw., "Satu pengendara (musafir) adalah syetan, dua pengendara (musafir) ialah dua syetan, dan tiga pengendara (musafir) ialah rombongan musafir." (Diriwayatkan Abu Daud, An-Nasai, dan At-Tirmidzi. Hadits ini shahih)

Sabda Rasulullah saw., "Jika manusia mengetahui bahaya yang ada pada pergi sendiri seperti yang aku ketahui, maka tidak ada seorang pun yang berani bepergian sendirian pada satu malam pun." (Diriwayatkan Al Bukhari).

5. Rombongan musafir harus menunjuk salah seorang dari mereka sebagai ketua rombongan yang memimpin mereka dengan bermusyawarah, karena Rasulullah saw. bersabda, "Jika tiga orang keluar untuk bepergian, maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai ketua rombongan." (Diriwayatkan Al-Bukhari).

6. Sebelum musafir berangkat bepergian, ia harus mengerjakan shalat istikharah, karena Rasulullah saw. menganjurkan hal yang demikian. Bahkan shalat istikharah itu beliau kerjakan ketika mengajarkan salah satu surat Al-Qur'an, dan ilmu-ilmu lain kepada para sahabat. (Diriwayatkan Al-Bukhari)

7. Ketika meninggalkan rumahnya, musafir berdoa dengan doa berikut, "Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah. Ya Allah, aku berlindung diri kepada-Mu dari tersesat dan disesatkan, dari tergelincir atau digelincirkan, dari bodoh atau dibodohi." (Diriwayatkan Abu Daud. Hadits ini shahih).

Jika ia telah menaiki kendaraannya, ia berdoa, "Dengan nama Allah, dengan nama Allah, dan Allah Mahabesar. Aku bertawakkal kepada Allah. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah Yang Mahatinggi dan Mahaagung. Apa yang dikehendaki Allah itu pasti terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki Allah itu tidak akan terjadi. Mahasuci Dzat yang menundukkan semua ini bagi kami, padahal sebelumnya tidak mampu menguasainya Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami. Ya Allah, aku meminta kepada-Mu dalam perjalanan ini kebaikan, ketakwaan, dan amal perbuatan yang Engkau ridhai. Ya Allah, mudahkanlah bagi kami perjalanan kami ini, dan dekatkan jauhnya untuk kami. Ya Allah, Engkau sahabat di dalam pejalanan, dan pengganti di keluarga, dan harta. Ya Allah, aku berlindung diri kepada-Mu dari kesulitan perjalanan, pemandangan yang menyedihkan, kegagalan, dan pemandangan buruk pada harta, keluarga, dan anak." (Diriwayatkan Abu Daud) .

8. Musafir berangkat pada hari Kamis pagi, karena dalil-dalil berikut:

"Ya Allah, berkahilah umatku di pagi harinya." (Diriwayatkan At Tirmidzi).

Karena diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. biasa keluar bepergian pada hari Kamis.

9. Musafir bertakbir di setiap tempat (dataran) tinggi, berdasarkan hadits Abu Hurairah ra yang berkata, "Seseorang berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku ingin bepergian, maka beri aku nasihat'. Rasulullah saw. bersabda, "Hendaklah engkau bertakwa kepada Allah, dan bertakbir di setiap tempat (dataran) yang tinggi." (Diriwayatkan At Tirmidzi dengan sanad yang baik).

10. Jika musafir takut kepada manusia, ia berdoa, "Ya Allah, aku jadikan Engkau di leher-leher mereka dan aku berlindung diri kepada-Mu dari keburukan mereka."

Rasulullah saw. biasa berbuat seperti itu.

11. Berdoa kepada Allah Ta‘ala dalam perjalanannya, dan meminta kebaikan dunia dan akhirat kepada-Nya, karena doa dalam perjalanan itu dikabulkan. karena Rasulullah saw. bersabda, "Tiga doa yang mustajab dan tidak ada keragu-raguan di dalamnya, doa orang yang tertindas, doa musafir, dan doa ayah untuk anaknya." (Diriwayatkan At-Tirmidzi dengan sanad yang baik).

12. Jika singgah di suatu tempat, musafir berkata, "Aku meminta perlindungan dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari keburukan apa yang Dia ciptakan."

Jika malam telah tiba, ia berdoa, "Wahai bumi Tuhanku, Tuhanmu adalah Allah, sesungguhnya aku berlindung diri kepada Allah dari keburukanmu, keburukan apa saja yang ada padamu, dari keburukan apa yang diciptakan padamu, dan dari keburukan apa saja yang berjalan di atasmu. Aku berlindung diri kepada Allah dan keburukan singa, ular besar, ular kecil, kalajengking, penghuni daerah ini, ayah, dan apa yang ia lahirkan." (Diriwayatkan para pemilik Sunan dan Muslim).

13. Jika ia takut binatang buas, ia berdoa dengan doa, "Mahasuci Raja Yang Mahasuci, Tuhan para malaikat, ruh (Jibril), langit-langit itu dimuliakan dengan kemuliaan dan kebesaran."

14. Jika musafir tidur pada awal, ia bentangkan kedua tangannya. Jika ia tidur di akhir malam, ia tegakkan salah satu tangannya, dan meletakkan kepalanya di telapak tangan satunya agar ia tidak kebablasan tidur sehingga ia tidak bisa mengerjakan shalat Shubuh pada waktunya.

15. Jika musafir melihat sebuah kota, ia berdoa, "Ya Allah, beri ketenangan di dalamnya, dan berilah kami rizki yang halal di dalamnya. Ya Allah, aku meminta kepada-Mu kebaikan kota ini, dan kebaikan apa saja yang ada di dalamnya. Aku berlindung diri kepada-Mu dari keburukan kota ini, dan keburukan apa saja yang ada di dalamnya."

Rasulullah saw. terbiasa membaca doa di atas jika beliau melihat salah satu kota dalam perjalanannya.

16. Musafir harus segera kembali kepada keluarga dan negerinya jika ia telah berhasil memenuhi kebutuhan dalam perjalanannya, karena Rasululiah saw. bersabda, "Perjalanan adalah potongan siksa yang menghalangi salah seorang dari kalian dari makanan, minuman, dan tidur. Jika salah seorang dari kalian telah selesai memenuhi kebutuhan dalam perjalanannya, hendaklah ia segera kembali kepada keluarganya." (Muttafaq Alaih).

17. Jika musafir hendak pulang ke daerahnya, ia bertakbir tiga kali dan berkata,

"Mereka kembali, bertaubat, beribadah kepada Tuhan kita, dan memuji-Nya."

Ia mengucapkan doa di atas secara berulang-ulang, karena Rasulullah saw. melakukan hal yang demikian.

18. Musafir tidak boleh mengetuk pintu rumah istrinya pada malam hari, namun ia harus mengutus seseorang kepada keluarganya untuk memberi khabar gembira tentang kedatangannya, dan tidak mengejutkan mereka dengan kedatangannya kepada mereka. Inilah petunjuk Rasulullah saw. dalam hal ini.

19. Wanita tidak boleh bepergian selama sehari atau semalam kecuali dengan mahramnya, karena Rasulullah saw. bersabda, "Wanita tidak halal bepergian selama sehari dan semalam kecuali dengan mahramnya." (Muttafaq Alaih).

Sumber: Diadaptasi dari Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Minhaajul Muslim, atau Ensiklopedi Muslim: Minhajul Muslim, terj. Fadhli Bahri (Darul Falah, 2002), hlm. 196-203. Terakhir kali diperbaharui ( Thursday, 22 November 2007 )
Read more Posted Under: , ,

Dalam beberapa riwayat menyebutkan bahwa Nabi shallallaahu alaihi wasallam pernah bercanda ketika memanggil shahabatnya :“Hai yang mempunyai dua telinga “ (HR. Tirmidzi dalam Syamail 225 dan Sunan-nya 1992, 3828; Abu Dawud no. 5002; dan Ahmad 3/117, 127. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 4182).Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam juga pernah berkata kepada seorang perempuan tua : “Tidak ada perempuan tua yang masuk surga”. Kemudian beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam membaca ayat : “Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari itu) dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan “ (Al-Waaqi’ah : 35-36) (HR. Tirmidzi dalam Syamail 240 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ghayatul-Maram 375).

Dari Anas radliyallaahu ‘anhu diriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki menemui Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, bawalah aku jalan-jalan”. Beliau berkata : “Kami akan membawamu berjalan-jalan menaiki anak unta”. Laki-laki itu pun menukas : “Apa yang bisa kuperbuat dengan anak unta?”. Beliau berkata : “Bukankah setiap unta adalah anak ibunya?” (HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya dalam kitab Al-Adab – 92 bab Riwayat tentang Bersendau-Gurau hadits no. 3998 (V : 270) dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud III : 943 no. 4180. Dikeluarkan juga oleh At-Tirmidzi dalam kitab Al-Birr–57 bab Riwayat tentang Bersendau- Gurau hadits no. 1992 (VI : 207)).

Dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu diriwayatkan bahwa ia berkata : “Orang-orang bertanya : ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau juga mengajak kami bercanda?’. Beliau menjawab : ‘Ya, tapi aku hanya mengatakan sesuatu apa adanya (tanpa berdusta) “ (HR. Tirmidzi dalam kitab Al-Birr wash-Shilah – 57 bab Riwayat tentang Sendau-Gurau 1991; dan beliau berkata : “Hadits ini hasan shahih”

Dari beberapa riwayat tentang kelakar/bercandanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam terkumpul padanya 3 (tiga) perkara :

1. Tidak berdusta / tidak mengada-ada.
2. Dilakukan terhadap wanita, anak-anak, dan kalangan pria yang lemah yang butuh bimbingan.
3. Jarang dilakukan (kadang-kadang).

Tiga perkara di atas hendaknya diperhatikan oleh kaum muslimin - baik bagi orang awam, para da’i, dan para pemimpin - dalam bermuamalah terhadap sesama.

Tidak halal hukumnya sengaja melucu dengan hal-hal kedustaan agar manusia tertawa karenanya.

Merupakan musibah di masyarakat ketika profesi pelawak menjadi sangat laris di masyarakat. Hendaknya mereka bertaubat kepada Allah ta’ala dan meninggalkannya, sebab rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengancam mereka (yang melucu dengan dusta agar orang-orang tertawa) dengan sabdanya : “Neraka Wail bagi orang yang berbicara lalu berdusta untuk melucu (membuat orang tertawa); neraka Wail baginya, neraka Wail baginya “ (HR. Abu Dawud dalam kitab Al-‘Adab – 88, bab Ancaman Keras terhadap Dusta; hadits no. 3990 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud III : 942 no. 4175).

Dengan demikian, berlebihan dalam kelakar dan terus-terusan dengannya adalah terlarang, karena hal itu akan menjatuhkan kehormatan dan menumbuhkan dendam serta kemarahan.

Adapun kalau sedikit, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, maka hal itu mengandung kebaikan jiwa.

Dan terakhir, tersisa nasihat emas dari Imam Dzahabi rahimahullah bagi kita semua, dengan perkataannya : “…hendaknya mereka membatasi diri dan hendaknya mereka mencela diri sendiri sehingga jiwanya tidak goyah. Sementara bagi mereka yang berwajah kusam masam, hendaknya mereka tersenyum dan memperelokkan akhlaqnya, serta harus marah kepada diri sendiri karena kejelekan akhlaqnya. Setiap penyimpangan yang keluar dari rel penyimpangan adalah tercela. Sehingga jiwa itu perlu dididik dan dibenahi” (Siyaaru A’lamin-Nubalaa’ X/140, 141).
Read more Posted Under: , ,

Orang Muslim mengakui bahwa anak-anak mempunyai hak-hak atas ayahnya dan hak-hak tersebut wajib ditunaikan seorang ayah. Dan ia mempunyai etika-etika yang harus ia perhatikan dalam hubungannya dengan anak-anaknya.

Di antara hak anak-anak atas ayahnya ialah mencarikan ibu yang baik baginya, menamakannya dengan nama yang baik, menyembelih kambing pada hari ketujuh kelahirannya, mengkhitankannya, mengasihinya, lemah-lembut terhadapnya, menafkahinya, mendidiknya dengan baik, serius mengajarkan ajaran-ajaran Islam kepadanya, dan melatihnya mengerjakan ibadah-ibadah wajib dan ibadah-ibadah sunnah, menikahkannya jika ia mencapai usia baligh, memberi penawaran kepadanya apakah ia hidup serumah dengannya atau pindah ke rumah tersendiri jika telah menikah, dan membangun keluhurannya dengan tangannya sendiri. Itu semua berdasarkan dalil-dalil berikut:

Firman Allah Ta‘ala, "Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang baik." (Al-Baqarah: 233).

Firman Allah Ta‘ala, "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakamya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (At-Tahrim: 6).

Pada ayat di atas terdapat perintah melindungi keluarga dari api neraka. Caranya dengan taat kepada Allah Ta‘ala, dan ketaatan kepada-Nya mengharuskan seseorang mengetahui hal-hal yang Allah wajib ditaati di dalamnya, dan ini tidak bisa diketahui kecuali dengan pengajaran. Karena anak termasuk keluarga seorang ayah, maka ayat di atas menjadi dalil tentang kewajiban seorang ayah untuk mengajari anaknya, membinanya, membimbingnya, membawanya kepada ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, dan menjauhkan daripadanya kekafiran, kemaksiatan, kerusakan, dan keburukan. Agar, dengan cara itu semua, seorang ayah bisa melindungi anaknya dan api neraka.

Pada ayat sebelumnya, "Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya", terdapat dalil tentang kewajiban seorang ayah untuk menafkahi anaknya, sebab nafkah yang harus diterima ibu yang menyusui adalah karena ibu tersebut menyusui anaknya.

Allah Ta‘ala berfirman, "Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut kemiskinan." (Al-Isra': 31).

Sabda Rasulullah saw. ketika beliau ditanya tentang dosa terbesar, maka beliau bersabda, "Engkau menjadikan Tuhan tandingan bagi Allah, padahal Allah yang menciptakanmu, atau engkau membunuh anakmu karena khawatir ia makan bersamamu, atau engkau berzina dengan istri tetanggamu." (Muttafaq ‘Alaih).

Larangan membunuh anak-anak mengharuskan seorang ayah mengasihi anak-anaknya, lemah lembut terhadap mereka, menjaga badan mereka, melindungi akal, dan jiwa mereka.

Tentang aqiqah untuk anak, Rasulullah saw. bersabda, "Seorang anak tergadaikan dengan (kambing) aqiqah yang disembelih untuknya pada hari ketujuh kelahirannya, ia diberi nama pada hari tersebut, dan rambutnya dicukur." (Diriwayatkan para pemilik Sunan dan At-Tirmidzi men-shahih-kan hadits ini).

Sabda Rasulullah saw., "Fitrah itu ada lima: Khitan, mencukur rambut di sekitar kemaluan, mencukur kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu di ketiak." (Diriwayatkan Jama'ah).

Sabda Rasulullah saw., "Muliakanlah anak-anak kalian dan didiklah mereka dengan baik, karena sesungguhnya anak-anak kalian adalah hadiah untuk kalian." (HR Ibnu Majah dengan sanad yang dhaif).

Sabda Rasulullah saw., "Samakan anak-anak kalian dalam pemberian, karena jika aku dibolehkan mengutamakan seseorang maka aku akan mengutamakan anak-anak perempuan." (HR Al-Baihaqi dan Ath-Thabrani. Al-Hafidz meng-hasan-kan hadits ini dengan sanadnya).

Sabda Rasulullah saw., "Ajarilah anak tentang shalat pada usia tujuh tahun, dan pukul mereka jika mereka tidak mengerjakannya pada usia sepuluh tahun, serta pisahkan mereka dalam tempat tidur." (HR Abu Daud dan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi meng-hasan-kan hadits ini).

Disebutkan dalam salah satu atsar bahwa hak anak atas ayahnya ialah hendaknya ayahnya mendidiknya dengan baik, dan menamakannya dengan nama yang baik.

Umar bin Khaththab ra berkata, "Di antara hak anak atas ayahnya ialah hendaknya ayahnya mengajari tulisan, memanah, dan tidak memberinya makan kecuali dari rizki yang halal dan bagus."

Diriwayatkan bahwa Umar ra berkata, "Nikahlah di kamar yang baik, sesungguhnya akhlak ayah itu menurun kepada anaknya."

Salah seorang Arab dusun memilihkan untuk anaknya seorang ibu yang baik, kemudian ia berkata,

Kebaikanku yang pertama kepada kalian
Ialah aku memilih wanita yang baik asal-usulnya, dan suci

Sumber: Diadaptasi dari Abu Bakr Jabir al-Jazairi, Minhaajul Muslim, atau Ensiklopedi Muslim: Minhajul Muslim, terj. Fadhli Bahri (Darul Falah, 2002), hlm. 135-138. Terakhir kali diperbaharui ( Monday, 26 November 2007 )
Read more Posted Under: , ,

Popular Post

Comments

Videos

Formulir Kontak

♖Your Name :
✎Your Email *required
✉Your Message *required