Pengembara yang masih tertatih berjalan di bawah bayang fatamorgana

Mantari Bungsu ©

About

Blog ini merupakan catatan pribadi dan kutipan serta tulisan dari berbagai sumber yang penulis rasa layak untuk di publish dan semoga dapat menjadi salah satu bahan referensi dan bacaan yang sifatnya untuk konsumsi personal dan atau lembaga.
Berbagai tulisan terkait pendidikan, agama dan budaya menjadi fokus kami dalam menyajikan tulisan dihadapan netizer.
Berbagai kritikan dan saran serta pandangan dan apresiasi kami harapkan dari netizer yang sempat singgah di blog ini.
Terimakasih.

Resume

Employment

Abdi Negara

Education

IKIP Padang

Portfolio

Sosial







Pendahuluan.
PERTI didirikan pada tanggal 15 zulqaidah 1346 H, bertepatan dengan 5 Mei 1928 M di Bukit Tinggi Sumatara Barat. Dalam perjalanannya PERTI terus berkembang sampai berwujud organisasi keagamaan yang besar dan bersifat nasional dengan memiliki Dewan Pengurus pusat yang berkedudukan di Jakarta. Organisasi masa sosial keagamaan ini pada awalnya merupakan sebuah perkumpulan sosial sebagai sebuah wadah perhimpunan orang tua murid Madrasah Tarbiyah Islamiyah yang sudah berkembang kala itu di Sumatera Barat. Mereka para pendiri adalah sehaluan mazhab, yaitu berkeyakinan sesuai dengan aliran Ahlussunnah wal Jama’ah dan dalam bidang fiqih bermazhab Syafi’i.
Di antara tokoh PERTI dalam priode awal dalam adalah Syeikh Muhammad Djamil Djoho. Dalam sejarah tercatat bahwa zaman pengusiran penguasa Belanda dan Jepang dari tanah Indonesia para ulama di berbagai daerah maju serentak dan bergerak bersama dalam upaya membebaskan dari penjajahan itu. Di dalam gerakan itu termasuklah ulama PERTI.

Masuknya ke NAD.
Pada tahun 1940-an Masehi, Syeikh Haji Wali Al-Khalidy, yang kemudian dikenal sebagai pemuka ulama yang berperan dalam bidang pendidikan dayah salafi, dakwah Islamiyah dan pengembang Thariqat Naqsyabandiyah di Aceh. Beliau kembali dari Bukit Tinggi setelah mendalami ilmu pengetahuan di daerah itu ke daerah asalnya Labuhan Haji Aceh Selatan. Di Labuhan Haji beliau membentuk PERTI dalam kapasitas komisariat yang langsung berpusat di Bukit Tinggi, karena di Aceh sendiri PERTI belum pernah ada.
Seperti halnya di Bukit Tinggi tempat lahirnya PERTI, di Labuhan Haji Aceh Selatan organisasi PERTI itu dibentuk sebagai wadah tempat berhimpunnya orang-orang yang berpaham keagamaan yang sama, yaitu penganut Ahlussunnah Wal Jama’ah dalam bidang aqidah dan bermazhab Syafi’i dalam bidang fiqh. Para pemuka pengurus PERTI Tgk. H. Nyak Diwan di Aceh Selatan, Tgk. H. Hasan Krueng Kalee di Banda Aceh. Ketua umum DPD Tgk. H. Muhammad Saleh, kemudian Tgk. H. M. Ghazali Sabil, seterusnya Tgk. H. Daud Zamzami, dan sekarang Tgk. H. Faisal Amin.

Perkembangannya di NAD.
Dayah Darussalam Labuhan Haji sebagai pusat PERTI pertama di Nanggroe Aceh Darussalam, telah melakukan pengkaderan yang cukup mantap, terencana dan matang. Dayah ini banyak membina kader-kader ulama yang mampu bergerak maju ke depan, dalam upaya mengembangkan ajaran Islam menurut Mazhab Syafi'i dan keyakinan Ahlussunnah Wal Jama’ah di tengah-tengah masyarakat luas, terutama melalui pembinaan dayah di berbagai daerah di wilayah Nanggroe Aceh Darussalam pusatnya di Labuhan Haji. Malah bukan hanya di daerah ini, tetapi ada juga di antara alumninya yang berkiprah di luar Aceh.
Dari kader-kader Dayah Darussalam tersebut dibangunlah dayah sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing. Dayah-dayah itu langsung atau tidak langsung menjadi basis PERTI di daerah bersangkutan. Sedangkan pimpinan dayah menjadi pelopornya dan terus mengadakan pengkaderan. Dengan demikian PERTI di Nanggroe Aceh Darussalam tumbuh dan berkembang dengan pesat, walau sekarang tidak terkoordinir secara baik.
Diantara kader-kader hasil binaan Dayah Darussalam Labuhan Haji yang cukup berjaya dan memiliki dayah di Aceh, sekaligus sebagai kader PERTI di Nanggroe Aceh Darussalam adalah: Tgk. H. Adnan Mahmud, dayahnya Ashhabul Yamin di Bakongan Aceh Selatan. Tgk.H. Jailani Musa, dayahnya di kota Fajar Aceh Selatan. Pada musyawarah cabang PERTI Aceh Selatan tahun 2003, putra beliau bernama Tgk. H. Jazuli Jailani terpilih sebagai ketua umum, untuk masa bakti 2003-2008. Tgk. H. Baharuddin Tawar, dayahnya di Tanah Merah Simpang Kanan Aceh Singkil. Tgk. H. Jakfar Siddiq dengan dayah yang terkenal Nurul Iman di Kutacane Aceh Tenggara. Tgk. H. Daud Zamzami, dayahnya Riyadhus Shalihin di Aceh Besar. Beliau ini pernah menjadi ketua umum Dewan Pimpinan Daerah PERTI Nanggroe Aceh Darussalam priode keempat. Tgk.H.Ahmad Zamzami, dayahnya bernama Darul Ma’arif di Aceh Besar, Tgk ini dikenal juga dengan gelar Tgk.Ahmad PERTI. Tgk.Abdul Aziz, dayahnya bernama Madrasah Ulum Diniyah Islamiyah di Samalanga Aceh Utara (sekarang dalam kabupaten Bireun). Tgk.H.Amin Mahmud (Tumin) di Blang Bladeh Aceh Utara (sekarang masuk dalam wilayah kabupaten Bireun). Tgk.H.Nasir Wali (anak kandung dari Tgk.H.Mudawali al-Khalidi) dayahnya bernama Serambi Mekkah, di Meulaboh Aceh Barat. Selain mereka ini masih banyak lagi para ulama alumni dayah Labuhan Haji yang memiliki dayah dan sekaligus menjabat sebagai pimpinannya.

Asetnya di NAD.
Pada masa priode awal PERTI memiliki aset yang cukup banyak, yaitu berupa tanah dan gedung sekolah. Tanah dan bangunan itu berasal dari waqaf kaum muslimin. Namun aset-aset itu tidak terinventaris secara baik, akibatnya sampai sekarang cukup banyak yang beralih kepemilikannya. Hal ini terjadi karena banyak faktor, antaranya adalah organisasi ini belum menerapkan administrasi secara modern, dimana harta kekayaannya hanya diterima dari waqaf dengan cara pengakuan secara lisan sipemberinya kepada pengurus. Selain itu para pengurus sendiri nampaknya kurang memiliki kemampuan untuk menata manajemen, hal ini sangat mungkin terjadi, karena dilatarbelakangi pendidikan di samping tidak ada tenaga yang dapat diandalkan dalam kepengurusannya.
Akibat dari keadaan ini ditambah pula dengan meningkatnya pembangunan di desa-desa, harta waqaf yang sudah menjadi kekayaan PERTI itu dirambah oleh oknum-oknum yang sifatnya mengalihkan hak kepemilikannya dari yang semula milik PERTI menjadi milik organisasi lain, seperti yang terjadi di Aceh Selatan. Malah ada pula diantara tanah aset PERTI digugat kembali oleh pihak anak cucu dari pemberi waqaf. Keadaan ini terlihat terus berlanjut dan bila tidak menjadi perhatian serius, dikhawatirkan kekayaan itu akan habis.
Sebagai contoh kongkrit adalah yang terjadi di wilayah daerah aliran sungai Singkil di kabupaten Aceh Singkil (dulu kabupaten Aceh Selatan), tanah dan bangunan milik Madrasah Tarbiyah Islamiyah beralih menjadi pembangunan SD Inpres masa pemerintah Presiden Soeharto. Contoh lain terjadi di daerah Aceh Selatan, sepetak tanah milik Madrasah Tarbiyah Islamiyah, beralih kepemilikannya.
Melihat keadaan yang cukup parah ini, para pengurus merasa terpenggil untuk memperbaiki kelalain masa lalu. Pemikiran ke arah ini nampak pada musyawarah cabang PERTI di Aceh Selatan pada bulan Januari 2003. Musyawarah mengamanatkan agar kepengurusan masa bakti 2003-2008 mengupayakan inventarisasi kembali aset PERTI di daerah, khususnya Dewan Pengurus Cabang Aceh Selatan. Gagasan ini sudah tercantum dalam program kerjanya. Namun kepengurusan sudah berjalan selama dua tahun, belum ada tanda-tanda pelaksanaanya. Bila hal ini terus belanjut, dikhawatirkan akan habis pula aset lainnya setahap demi setahap.
Keadaan ini dapat dicermati dari perkembangan dan perluasan daerah pembangunan di berbagai daerah. Suatu bidang tanah yang dulunya hanya sebagai tanah terbengkalai atau tanah pertanian yang nilai jualnya cukup rendah, sehari demi sehari terus meningkat, karena posisinya makin strategis dan bernilai ekonomi. Akibatnya tanah itu menjadi incaran berbagai pihak, kaum investor. Jadi perlindungan hukum terhadap tanah dan bangunan milik PERTI adalah suatu yang sangat perlu mendapat perhatian dari berbagai pihak, terutama para pengurus dan para simpatisan pada umumnya, karena perjuangan PERTI sendiri adalah perjuangan untuk pembinaan umat Islam di bawah arahan ulama Syafi'iyah yang bermazhab Ahlussunah Wal Jama’ah. (Damanhuri Basyir).




Read more Posted Under: ,

Ini cerita Nyata, beliau adalah Bp. Eko Pratomo, Direktur Fortis,Asset Management yg sangat terkenal di kalangan Pasar Modal dan Investment,beliau juga sangat sukses dlm memajukan industri Reksadana di Indonesia. Apa yg diutarakan beliau adalah Sangat Benar sekali.
Silahkan baca dan dihayati.
*MAMPUKAH KITA MENCINTAI TANPA SYARAT* - - - sebuah perenungan
Buat para suami baca ya..... istri & calon istri juga boleh... Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam,Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua.
Mereka menikah sudah lebih 32 tahun.
Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa,setelah istrinya melahirkan anak ke
empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.
Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi,dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.
Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian..
Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.
Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.
Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil. Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata " Pak kami ingin sekali merawat ibu semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak....... bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu" . dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya "sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baiknya secara bergantian".
Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka." Anak2ku .......... Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah..... .tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian... sejenak kerongkongannya tersekat,... kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti Ini.

Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain,bagaimana dengan ibumu yg masih sakit."
Sejenak meledaklah tangis anak2 pak suyatno merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata ibu Suyatno.. dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.. Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2... disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru. Disitulah Pak Suyatno bercerita.
"Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi ( memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2..
Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama..dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit,,,"
email dari pak Muktaruddin Yacob/ SCTV 09082008
Read more Posted Under: , ,
TIGA BURUH MIGRAN PEREMPUAN INDONESIA TERKATUNG-KATUNG DALAM PENJARA DI NEGARA PENEMPATAN
Tiga buruh migran perempuan Indonesia saat ini berada dalam penjara di luar negeri. Mereka adalah Yoyoh Bt. Mustopa (32 tahun), asal Bekasi yang berada di penjara Bahrain, Sunariyah (28 tahun), asal Karawang yang berada di penjara Abudhabi, dan Juleha Bt. Durakhman (29 tahun), asal Cirebon yang berada di penjara Sijin Al Malash Al Nisa Riyadh.Yoyoh Bt. Mustopa (32 tahun), Buruh Migran Perempuan asal Bekasi dijebloskan ke penjara Bahrain oleh agennya. Yoyoh diberangkatkan oleh PT. Aljaidi Ikhwan tanggal 12 April 2007.
*************

Buruh Migran Perempuan Asal Karawang Meninggal di Syria
NN, Buruh Migran asal Karawang meninggal dunia di Syria pada tanggal 22 Mei 2007, sekitar pukul 09.00 waktu setempat. Menurut keluarganya, NN bekerja di Syria sejak April 2007 dan diberangkatkan melalui PJTKI illegal di Jakarta Timur. Menurut KBRI Syria, kematian disebabkan jatuh dari lantai 3 rumah majikannya.
*************

PERNYATAAN SIKAP
Solidaritas Perempuan: Menggugat Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal Undang-Undang No. 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal yang disahkan oleh DPR berpeluang untuk menambah malapetaka baru bagi bangsa Indonesia. Masih nampak di depan mata kita bagaimana perampasan tanah rakyat di Alas Tlogo-Pasuruan dan kawasan Meruya Selatan mengakibatkan begitu banyak perempuan yang menderita.
Paradigma pembangunan yang bertumpu pada pertumbuhan ekonomi, stabilitas nasional, dan pemerataan pendapatan membuat pemerintah menghalalkan berbagai cara untuk menjaga keamanan pemilik modal dan proyek-proyek pembangunan. Dengan dalih stabilitas nasional terjadi berbagai penindasan, pelanggaran HAM, eksploitasi sumber daya alam, kekerasan, dan pemiskinan perempuan serta dikerahkannya aparat militer untuk menjamin keamanan bagi para pemilik modal.
*****************

tiga berita di atas dikutip dari website solidaritas perempuan, tanggal 07 Juli 2008.

Dari ketiga tulisan tersebut, kita bisa mengambil salah satu kesimpulan bahwa perempuan sangat rentan dengan tindakan kekerasan dan pelecehan serta ekploitasi.

Perlu kita periksa juga penyebab dari semua hal tersebut dan kita coba membalik2 lembaran sejarah, dari mulai dunia ini terkembang dan berdirinya berbagai budaya dari semua bangsa2 di dunia ini, tetap saja perempuan berada dalam posisi yang dirugikan, dieksploitasi dan diremehkan.

Menurut hemat saya, hal ini bakal tetap terjadi sampai dunia ini ditutup lagi, seandainya konsep dan memposisikan perempuan tidak dilakukan sebagaimana yang telah diamanahkan oleh sang Pencipta Dunia ini yang sekaligus pencipta perempuan itu sendiri.

Umat Islam seyogyanya sangat yakin dan komit bahwa sesungguhnya agama Islam telah final sebagai satu-satunya ajaran kehidupan. Nah kalau Umat Islam telah memposisikan pikiran, komitmen dan pergerakannya dengan konsep Islam, saya yakin posisi perempuan tidak lagi akan menjadi manusia yang dieksploitasi, tidak lagi menjadi bahan komodiri layaknya barang dagangan atau tidak lagi ditindas layaknya budak2.

Kenapa???

Karena menurut Islam, perempuan memang bukan diciptakan untuk mencari nafkah/uang/segepok materi, tetapi perempuan diciptakan untuk menjadi pendidikbagi anak-anak mereka, memberikan kenyamanan bagi suami mereka, menjadi perhiasan dalam rumah tangga mereka. Perempuan berkiprah membangun bangsa bukan berarti terjun ke dunia publik tetapi cukup dengan menggodok dan mempersiapkan anak2 mereka untuk menjadi manusia yang manusia.

Mereka dilindungi demikian kokoh oleh seorang suami, halal darah seorang suami mengalir demi mempertahankan harkat dan martabat Istrinya apabila diinjak2 oleh orang lain.
Tidak akan ada lagi perempuan berkeliaran mencari seonggok materi karena memang dia telah dan menjadi tanggungan Suami dikala dia telah menikah dan menjadi tanggungan orang tua mereka sebelum menikah.

Hinakah perempuan, kalau dia menjadi tanggungan orang tua mereka sebelum mereka menikah dan menjadi tanggungan Suami, dikala mereka telah menikah???
Saya belum menemukan konsep dan pemikiran yang rasional untuk jawaban bahwa perempuan akan terhina dengan dinafkahi orang tua atau Suami.

Ada persoalan lain yang lagi tren, yaitu Materi/Kekayaan/Harta Benda.........
Apakah kita rela mengorbankan harkat dan martabat perempuan, hanya demi mengejar Materi/Kekayaan/Harta Benda.........
Saya pikir, tidak ada satu orang yang waraspun akan menjawab Rela........

Sekarang tinggal bagaimana kita menempatkan konsep yang benar dalam memandang dan memposisikan perempuan, dan juga para perempuan menempatkan dan memposisikan diri mereka.............!!!

Tetapi

di kala seorang perempuan telah berkiprah layaknya laki-laki, maka perlindungan yang sedemikian kokoh tidak akan ada lagi.

**************


Islam dari awal telah sangat memperhatikan harkat dan martabat perempuan. Islam mengangkat derajat sosial perempuan dari lembah yang sangat hina menjadi paling terhormat.
Di telapak kaki seorang ibu terlataknya sorga.
Tatanan kehidupan telah begitu rapi dan manis serta sangat harmonis di tata dalam Islam. Perempuan begitu sangat dijaga sehingga untuk keluar saja perempuan butuh ketentuan-ketentuan tersendiri, sehingga dia menjadi sebentuk intan yang memang amat bernilai tinggi.

Dari tangan para perempuanlah lahirnya seorang pemimpin, seorang ilmuan, seorang cendekiawan.
Sebaliknya juga dari tangan perempuan akan tercipta manusia-manusia bejad dan murka.

Perempuan memang tempatnya di rumah, menjadi pendidik bagi anak-anak mereka yang bakal terjun ke dunia nyata.
Bisa kita bayangkan, kalau anak-anak dididik oleh pengasuh atau oleh panti-panti meski berkedok tempat pendidikan anak-anak, hasil nya tentu akan sangat kurang, baik dari segi kognitif dan psikomotor apalagi afektif anak-anak.
Seandainya seorang ibu telah disibukkan oleh pekerjaan untuk setumpuk ekonomi, pagi-pagi telah bersiap-siap untuk pergi bekerja, pulang sore hari, malam sudah kelelahan ditambah lagi pekerjaan yang harus dikerjakan di rumah, sudah barang tentu sangat sedikit waktu untuk membimbing anak-anak, sementara usia anak-anak jelas masa-masa yang perlu bimbingan yang terus menerus dan butuh kuantitas dan kualitas yang tinggi serta belaian kasih sayang seorang ibu.
Ada memang sekolah, tetapi disana tentu banyak keterbatasan dalam menyiapkan generasi yang mapan dalam kognitif, cakap dalam psikomotor serta arief dan santun dalam afektifnya.
Perempuan memang sangat dibutuhkan dalam membangun Agama dan bangsa, tetapi bukan berarti perempuan juga ikut bersama laki-laki dalam bekerja diberbagai lini kehidupan, tetapi mereka adalah base camp pencetak manusia unggul di dalam rumah tangganya.
Seorang pahlawan akan sangat termotifasi di lapangan tempur kalau di jiwanya telah tertanam suatu nilai pengorbanan, nilsi jihad yang senantiasa disemai dan disiram oleh ibu mereka di rumah. Mustahil seorang akan ikhlas dan istiqamah dalam perjuangan kalau hanya hasil cetakan instan dari sebuah pabrik ilmu atau diklat.
Untuk menopang itu semua, untuk mencetak generasi yang energik, cerdas dan berjiwa juang tinggi dibutuhkan gemblengan yang terus menerus dan penuh santun, tentunya ini bisa tercipta kalau para perempuan benar-benar menjalankan fitrahnya sebagai seorang ibu.
Para perempuan memang sangat dibutuhkan berpendidikan yang tinggi kalau perlu setinggi-tingginya, tetapi tempat dia mengabdikan ilmunya  adalah di rumah tangga mereka sendiri. Disana akan lahir generasi-generasi yang cerdas dan santun, ikhlas dan gigih dalam perjuangan. Tentu akan jauh berbeda hasil didikan seoramgS1, S2 apalagi S3 dibandingkan tamatan SD dalam menyiapkan anak di rumah.
GENDER yang sa’at ini didengung-dengungkan, pada akhirnya akan membawa derajat perempuan pada tataran di bawah, jauh di bawah cita-cita Islam dalam menempatkan perempuan. Mereka sebagian kecil memang ada yang akan menjadi pemimpin2 tetapi sebagian besarnya akan menjadi buruh2 sementara tugas pokok mempersiapkan generasi mendatang akan kececeran. Wallahu alam

Read more Posted Under: , , ,

Popular Post

Comments

Videos

Formulir Kontak

♖Your Name :
✎Your Email *required
✉Your Message *required