About
Blog ini merupakan catatan pribadi dan kutipan serta tulisan dari berbagai sumber yang penulis rasa layak untuk di publish dan semoga dapat menjadi salah satu bahan referensi dan bacaan yang sifatnya untuk konsumsi personal dan atau lembaga.
Berbagai tulisan terkait pendidikan, agama dan budaya menjadi fokus kami dalam menyajikan tulisan dihadapan netizer.
Berbagai kritikan dan saran serta pandangan dan apresiasi kami harapkan dari netizer yang sempat singgah di blog ini.
Terimakasih.
Resume
Employment
Abdi Negara
Education
IKIP Padang
Dongeng Tsunami
Mengenang 10 Tahun musibah Gempa dan Tsunami di Aceh, kami hadirkan kilas balik Pendidikan Aceh dalam bentuk Video Dokumenter yang menyajikan betapa sengsaranya pendidikan Aceh di tengah terpaan imbas konflik yang disempurnakan keprihatinan itu dengan datangnya gempa dan gelombang tsunami yang meluluhlantakkan bumi Iskandar Muda, Aceh lon sayang.
Kondisi itu pula yang membawa Aceh kepada kasanah baru yang ditandainya dengan perjanjian perdamaian antara Pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh merdeka (GAM) dalam paket MoU Helsinky. Bertolak dari hasil perjanjian damai itu, Aceh kembali bangkit dan pendidikan Aceh mulai menggeliat untuk duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan teman-teman provinsi lainnya di Nusantara dan dunia internasional.
Tentu bukan hal yang mudah untuk bersanding dan bersaing dengan provinsi lain apalagi dengan dunia internasional, pendidikan yang telah babak belur harus disehatkan dulu dari berbagai trauma konflik dan musibah tsunami, sebelum akhirnya berpacu ditataran nasional dan global.
Film dokumenter ini mencoba memaparkan kondisi di atas dalam bentuk visual dalam paket: "Spirit of Education for ACEH"
Read more
Posted Under:
Dongeng Tsunami ,
My Video
Kondisi itu pula yang membawa Aceh kepada kasanah baru yang ditandainya dengan perjanjian perdamaian antara Pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh merdeka (GAM) dalam paket MoU Helsinky. Bertolak dari hasil perjanjian damai itu, Aceh kembali bangkit dan pendidikan Aceh mulai menggeliat untuk duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan teman-teman provinsi lainnya di Nusantara dan dunia internasional.
Tentu bukan hal yang mudah untuk bersanding dan bersaing dengan provinsi lain apalagi dengan dunia internasional, pendidikan yang telah babak belur harus disehatkan dulu dari berbagai trauma konflik dan musibah tsunami, sebelum akhirnya berpacu ditataran nasional dan global.
Film dokumenter ini mencoba memaparkan kondisi di atas dalam bentuk visual dalam paket: "Spirit of Education for ACEH"
2. Jembatan Simpang Surabaya
Guncangan hebat telah berhenti di pagi itu, tanggal 26 Desember 2004, kami kembali masuk ke rumah untuk memeriksa barang-barang yang telah berserakan diseantero ruangan. Sontak saya ingat, kalau di kantor tempat saya bekerja, ada tower radio Visi FM yang tingginya mencapai 60 meter. Pikiran saya melayang kesamana, kemungkinan tower itu jatuh dan menimpa kantor atau kantor yang berdekatan dengan kantor saya di Dinas Pendidikan Aceh.
Guncangan hebat telah berhenti di pagi itu, tanggal 26 Desember 2004, kami kembali masuk ke rumah untuk memeriksa barang-barang yang telah berserakan diseantero ruangan. Sontak saya ingat, kalau di kantor tempat saya bekerja, ada tower radio Visi FM yang tingginya mencapai 60 meter. Pikiran saya melayang kesamana, kemungkinan tower itu jatuh dan menimpa kantor atau kantor yang berdekatan dengan kantor saya di Dinas Pendidikan Aceh.
Jarak rumah tepat saya tinggal dengan kantor sekitar 5 kilometer, dan hanya membuthkan waktu sekitar sepuluh menit untuk ke sana. Selama dalam perjalanan, saya sempat memperhatikan masyarakat yang masih berada di luar rumah mereka masing-masing dan masih ada yang terlihat seperti orang setengah mabuk, hoyong dan berjalan tertatih-tatih.
Sebelum saya sampai di kantor, dari kejauhan saya melihat bahwa tower radio yang saya khawatairkan tumbang, ternyata masih berdiri dengan kokoh dan tali sling sebagai penopang hanya sebagian yang terlihat longgar. Akhirnya saya tidak jadi melanjutkan perjalanan ke kantor, mobil saya belokkan ke kiri, pas samping gedung DPR Aceh menuju arah Asrama TNI Kuta Alam, saya belokkan lagi mobil ke arah kiri dengan tujuan untuk kembali pulang ke rumah. Sesampainya di samping sungai Krueng Aceh, tepatnya sebelum jembatan penyeberangan Simpang Surabaya, saya menoleh ke arah sungai, saya lihat orang sudah rame berdiri di tepi sungai dan di dalam sungai telah bertebaran sampah bangunan, perabotan rumah tangga, kayu, besi, sampan dan sampah-sampah lainnya yang diseret oleh air ke arah hulu sungai. di antara tumpukan sampah terlihat banyak orang yang lagi menjerit minta tolong, jumlahnya hampir sama dengan banyaknya sampah yang lagi terseret arus.
Melihat suasana itu, saya spontan memarkirkan mobil di pinggir jalan dan keluar serta menyeberang ke arah bantalan sungai untuk melihat lebih dekat. Masya Allah, disana sudah banyak mayat dan manusia yang lagi sekarat serta sebagiannya masih ada yang kuat minta tolong dan berupaya untuk menggapai pinggiran sungai. Masyarakat yang berada dipinggiran sungai berusaha untuk membantu orang yang lagi hanyut tersebut dengan menjulurkan kayu, tali dan kain agar dapat digaet dan dijadikan pegangan untuk naik dan keluar dari seretan arus sungai yang begitu kencang.
Saya juga berupaya untuk bersama-sama membantu mereka yang hanyut, sebentar-sebentar saya melihat ada orang yang terseret arus sungai dan menggapai tiang-tiang di bagian bawah sungai. Banyak diantara mereka yang kembali jatuh dan dihantam kayu serta sampah keras lainnya dan akhirnya jatuh terseret kembali ke dalam arus yang begitu kencang dan sesaat hilang tertalan arus sungai.
Saat itu, saya tidak sempat berfikir lagi apa yang terjadi, saya masih awan dengan istilah tsunami, saya hanya keheranan kenapa air begitu kencang menuju arah hulu sungai dan sampah-sampah serta manusia yang begitu banyak di dalamnya. Sembari membantu orang yang terseret arus sungai, saya menoleh ke arah jalan raya yang sudah semakin ramai orang berlarian menuju arah ulee kareng dan simpang surabaya. Mobil, kendaraan roda dua, becak telah berdesak-desakan di jalanan itu, terlihat seperti kemacetan padat kota besar.
Sekitar 30 menit kemudian, saya melihat rombongan anak-anak berpakaian seragam olahraga; "Santri Saya" secara refleks pikiran saya menangkap kalau mereka adalah santri saya di Dayah Terpadu Inshafuddin. Spontan saya hentikan upaya menolong orang-orang yang terseret arus sungai, saya berjalan ke arah mereka seraya bertanya: "bagaimana dengan dayah kita....?". Mereka menjawab bahwa dayah telah hancur dan hanyut. Saya mulai gelisah teringat dengan istri dan anak-anak serta santri yang jumlahnya lebih 400 orang yang kami asuh selama ini.
Ditengah kegundahan batin saya itu, saya pesankan kepada para santri agar menyeberang ke arah simpang surabaya dan berhenti di sana untuk berkumpul dan menunggu teman-teman mereka yang masih berada di belakang. Ada dua orang ustadz bersama mereka, saya pesankan kepada ustadz tersebut agar berkumpul dikawasan simpang surabaya, sambil mengumpulkan santri-santri lainnya.
Saya kembali ke mobil dan berjalan menuju arah simpang jambo tapee, arah menuju Dayah Terpadu Inshafuddin, dimana saya tinggal disana bersama keluarga dan ratusan santri. Sesampainya di simpang jambo tapee, terlihat air sudah menggenangi jalan. Saya tetap melanjutkan perjalanan sampai akhirnya mobil digenangi air sampai separohnya dan mesin mobil sedan tua itu mati. Saya ke luar dari mobil dan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki ke arah Rumah Sakit Umum Zainal Abidin. Saat itu, air sudah di atas lutut, dengan arus yang cukup deras. Sampah dan mayat manusia yang terseret air bertebaran di sepanjang jalan Tgk. H.M. Daud Beureueh itu. Sembali berjalan saya perhatikan mayat itu satu persatu, pikiran saya sudah mulai gundah, setiap mayat yang mirip dengan postur tubuh istri dan anak saya, saya amati dengan cermat; "Mungkin itu istri saya, mungkin ini anak saya" kalimat itu senantiasa bergayutan di benak saya dikala melihat ada mayat yang terapung dan hanyut yang mirip dengan postur tubuh mereka.
Sesekali, saya sempat juga melihat ada orang yang memegang mayat yang hanyut, saya awalnya berfikir mereka juga lagi mencari keluarga yang hanyut atau hilang, tetapi ternyata sebagiannya ada yang mengambil perhiasan yang masih terpasang di tubuh mayat-mayat yang hanyut. Batin saya sangat tidak menerima perlakuan itu, tetapi dalam suasana yang serba tidak menentu tersebut, saya tidak mampu untuk menegur apalagi melarang mereka. Saya hanya berfikir; "mungkin itu keluarga mereka", pikiran yang saya paksakan di dalam benak saya untuk menghapus buruk sangka terhadap orang-orang yang saya lihat tersebut. Ada ratusan mayat saya lewati, akhirnya saya sampai di depan Rumah Sakit Umum Zainal Abidin. Saat saya membelokkan perjalanan ke arah kiri menuju Dayah Terpadu Inshafuddin, air sudah semakin tinggi, saya ambil dompet dan segala benda yang ada pada kantong celana saya, saya angkat tinggi agar tidak terendam air.
Selama dalam perjalanan ini saya harus melalui tumpukan sampai dan mayat manusia yang berseliweran diseret arus air. Dengan sangat hati-hati saya lanjutkan perjalanan agar tidak sempat tertusuk atau terinjak benda-benda sampah yang membahayakan. Akhirnya setelah menempuh perjalanan sekitar 100 menit (dalam kondisi normal, hanya membutuhkan waktu 20 menit), saya sampai ke gerbang Dayah Terpadu Inshafuddin. Saya perhatikan gedung-gedung masih berdiri kokoh, hanya ada delapan ruangan yang hancur dan sudah dipenuhi sampah dan mayat. Saya pandang ke arah rumah tempat kami tinggal, terlihat masih utuh. Pelan-pelan dan penuh kehati-hatian, saya berjalan menuju rumah dan sesampainya di depan rumah, saya perhatikan tinggi tumpukan sampah sudah melewati tinggi pandangan mata saya.
Saat sampai di depan pintu rumah, saya lihat pintu rumah terbuka sepertiganya sementara kaca jendela ada yang pecah sebanyak 2 buah jendela. Saya masuk ke rumah sambil berpijakan di lemari ruang tamu yang telah rebah, sambil menguakkan sampah-sampah ringan yang terapung di permukaan air. Tinggi air saat itu, masih melebihi tinggi badan saya, hanya saja karena berdiri di atas benda-benda sampah saya tidak sempat terendam. Saya masuk ke kamar depan, saya lihat tilam sudah merapung seperti perahu, saya coba masuk lebih dalam sambil menguakkan sampah-sampah dan saya perhatikan dengan seksama, apa ada salah satu anggota keluarga saya yang terkurung di sana. Setelah meneliti semua ruangan dalam rumah tersebut, saya akhirnya kembali ke luar rumah, pikiran saya semakin kacau, keluarga yang saya cari tidak ada dalam rumah, tidak ada dalam perjalanan tadi. Saat itu, saya tidak lagi berfikir hidup atau mati, yang penting berjumpa dengan mereka, sebagian jiwa saya sudah saya paksanakan untuk menerima kalau-kalau harus menjumpai mayat keluarga saya.
Di tengah kegalauan hati tersebut, saya masih sempat melihat kendaraan roda dua yang biasa saya pakai, telah tertimpa dengan sampah yang menggunung. Kendaraan itu juga sering dipakai oleh adek saya, "Kenapa Honda ini masih di sini, berarti si Rid (nama panggilan adek saya) tidak sempat lari". Menurut perkiraan saya saat itu, si Rid tidak sempat mengendarai kendaraan ini atau dia telah hanyut terseret arus air bersama anggota keluarga yang lainnya. Saya sejenak termangu memandang dayah yang sudah centang perenang, sebagian gedung yang telah rubuh dan hanyut serta tumpukan sampah yang menggunung diseluruh pekarangan dayah.
Kemana saya harus mencari mereka...............!?
1. Gunug Tua dan Mobil Tua
Sore itu - kamis, 27 Oktober 2005, kami sekeluarga sedang menelusuri jalanan yang rusak parah, penuh genangan air dan gundukan tanah liat menuju kampung halaman untuk bersimpuh di kaki ayah bunda pada lebaran fitri tahun itu. Mobil tua yang saya kendarai adalah sebuah mobil sedan kecil berlabel keluaran tahun 1979. Dalam kondisi lelah dan mengantuk, mobil tetap saya upayakan untuk mengendalikannya agar jangan terpeleset atau kandas dalam lobang yang cukup dalam, namun tiba-tiba tali klos mobil saya tidak berfungsi, sehingga dengan mendadak mobil harus saya hentikan.
Sore itu - kamis, 27 Oktober 2005, kami sekeluarga sedang menelusuri jalanan yang rusak parah, penuh genangan air dan gundukan tanah liat menuju kampung halaman untuk bersimpuh di kaki ayah bunda pada lebaran fitri tahun itu. Mobil tua yang saya kendarai adalah sebuah mobil sedan kecil berlabel keluaran tahun 1979. Dalam kondisi lelah dan mengantuk, mobil tetap saya upayakan untuk mengendalikannya agar jangan terpeleset atau kandas dalam lobang yang cukup dalam, namun tiba-tiba tali klos mobil saya tidak berfungsi, sehingga dengan mendadak mobil harus saya hentikan.
Di tengah perjalanan yang hanya dikawal oleh hutan karet dan sawit itu, saya membantin: "Malam ini kami harus tidur dalam hutan tanpa penghuni, mana suasana puasa lagi, ada sedikit rasa ketakutan dalam hati, mengingat wilayah tersebut belum saya kenal dengan baik". Dalam suasana kesal, sedih dan rasa takut, saya turun dari mobil dan membuka kap mobil untuk melihat apa yang terjadi, semoga saya bisa memperbaikinya sendiri dengan bantuan teman dari jarak jauh melalui telpon seluler. Setalah dipandu oleh seorang teman melalui HP, saya baru dapat mengidentifikasi apa yang salah dengan mobil ini, ternyata spi tali clos nya sudah tidak ada lagi, mungkin copot atau patah.
Saya mencoba mengikatkan kawat yang kebetulan ada di dalam mobil, untuk menggantikan sementara spy tali clos yang hilang, ternyata setelah beberapa kali saya coba, tidak mendapatkan hasil apapun, malah cucuran keringat dan keletihan yang saya dapatkan ditengah senja puasa Ramadhan 1426 H itu.
Dari arah belakang, datang sebuah truk besar yang saya perkirakan isinya adalah minyak kelapa sawit. Sopir dan orang yang ada dalam truk tersebut hanya melihat sambil memberi isarat bahwa dia tidak bisa membantu dan truk itupun berlalu, demikian juga dengan beberapa mobil penumpang yang beriringan dengan truk tersebut, mereka hanya melihat dan lewat begitu saja. Saya mulai putus asa dan membayangkan bahwa malam itu, kami akan tidur dalam hutan itu. Dalam kebingungan dan sambil terus mencari cara agar tali clos mobil bisa berfungsi lagi, terdengar dari arah belakang suara gaduh dan rem mobil yang injak mendadak, ternyata sebuah mobil pic-up tua yang berisi muatan kayu bakar untuk dapur, behenti persis di belakang mobil kami dan tidak lama kemudian sopirnya pun turun sembari bertanya:
"Kenapa mobilnya Pak?" tegus sopir pic-up sambil memperhatian kebawah kap mobil yang sedang terbuka.
"Spi tali klos saya hilang bang, nggak tau cara perbaikinya" saya menjawab dengan setengah pasrah.
"Sebentara dek, (sapaan Bapak telah berubah adek, karena memang dia lebih tua dari saya) saya coba lihat dulu mungkin di mobil saya ada alat-alat yang bisa kita pakai untuk memfungsikan tali klos mobil ini" tawaran spontan supir itu. .
Tidak lama berselang, sopir tadi kembali bersama istrinya membawa setentengan alat-alat perbaikan mobil yang dibungkus dengan bungkusan plastik kresek. Keluarga saya dan istri sopir tersebut kemudian saling berkenalan dan Abang supir tadi mengeluarkan semua peralatan yang ada dan mencari di antara alat-alat tersebut ada yang cocok dijadikan pengganti spi tali klos mobil saya.
Sambil bersama-sama mengakali alat untuk ganti spi tali klos itu, kami saling berkenalan, Abang supir ini, ternyata bernama Tagor, jadi saya sapa dengan sebutan Bang Tagor.
Istri Bang Tagor yang banyak bertanya dan bercerita, baik dari mana kami, mau kemana dan segala hal ditanyakan oleh Istri Bang Tagor, sehingga saat saya jawab bahwa kami dari Aceh, Istri Bang Tagor semakin bersemangat mengajak bicara. Dari semua percakapan itu, salah satu yang menarik buat saya adalah saat dia sampaikan bahwa Ibunda dari Istri Bang Tagor hilang ditelan Tsunami. Ibunda kakak tersebut ternyata dua hari sebelum Tsunami, berangkat dari Gunung Tua menuju Kota Banda Aceh untuk menjenguk cucunya yang baru lahir. Adek dari Istri Bang Tagor ini rupanya ada yang menetap di Banda Aceh, tepatnya kawasan perumahan Kaju, kawasan yang sangat parah diterjang Tsunami, hampir tidak ada sisa bangunan di kawasana tersebut.
Saat itulah, saya membantin dan pikiran saya mulai menerawang pada peristiwa 14 Desember 2004:
"Ternyata kalau Allah memanggil dan menghendaki seseorang meninggal dibawa oleh gelombang Tsunami, dari wilayah yang sangat jauh pun, mendapat panggilan Nya. Seakan-akan Tsunami memanggil Ibu itu untuk datang dan menghantarnya nyawanya dibawah gelombang Tsunami"
Saya mulai kembali terbawa pada suasana yang baru 10 (sepuluh bulan) berlalu, dimana tempat kami tinggal juga digulung oleh Gelombang Tsunami yang begitu dahsyat.
Kami sekeluarga tinggal bersama 436 orang santri dan tiga puluhan Ustadz/Ustadzah serta keluarga pimpinan Dayah Terpadu Inshafuddin waktu itu, yaitu Drs. Tgk. H. M. Daud Hasbi. Beliau mempunyai tiga orang putra dan putri. Tgk. H. M, Daud Hasbi beserta keluarganya pada pagi itu sedang berada di Asrama Embarkasi Haji Banda Aceh, karena beliau salah seorang petugas yang mengurus keberangkatan haji dari Embarkasi Haji Banda Aceh ke Mekkah.
Pagi itu, tanggal 26 Desember 2004, selesai shalat subuh, saya kembali tidur karena masih sangat mengantuk, pada malam sebelumnya saya sudah larut malam baru bisa tidur setelah selesai mengurus berbagai persoalan dayah dan rapat dengan dewan guru (ustad/ustadzah). Sementara istri saya sebagaimana kebiasaannya sehari-hari, selesai Shalat subuh, mulai bergerak ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi dan bersiap-siap untuk membuka kantin dayah natinya setelah pukul 07.30 pagi.
Tiba-tiba sekitar pukul 07.20 saya dibangunkan oleh istri sambil menjerit-jerit kalau saat itu sedang terjadi gempa yang kuat. Sambil bangun dan dalam suasana setengah sadar, saya merasakan goncangan yang sangat kuat dan dengan terhuyung-huyung, saya berjalan ke luar rumah sambil merayap berpegangan di dinding. Anak-anak dan semua personil yang ada di rumah saat itu, telah berada di depan rumah. Suara gemuruh dan gaduh serta guncangan yang begitu kuat membuat keseimbangan kesadaran saya menjadi tidak stabil, sembari mengucapkan kalimat syahadat dan takbir, saya terpental di pekarangan depan rumah, rasanya saya sedang berada dalam ayakan besar, badan bergeser kesegala arah tanpa dapat saya kendalikan, saya waktu itu berfikir: "Apakah ini kiamat??? tetapi kok tanda-tanda kiamat yang saya ketahui dan saya yakini menurut agama saya belum ada?!!!" dalam zikir dan takbir ditengah gunjangan hebat itu, masih sempat rupanya pikiran saya menjalar ke arena logika agama yang saya yakini.
Popular Post
-
Pendahuluan. PERTI didirikan pada tanggal 15 zulqaidah 1346 H, bertepatan dengan 5 Mei 1928 M di Bukit Tinggi Sumatara Barat. Dala...
-
SUAYAN BALENGGEK Galodo *) Misramolai Gampo galodo nanlah datang Batamuan jo gunuang tigo Pambaleh jaso rang nan ilang Siang-...
